Sabtu, 28 Desember 2013

Makalah Eklamsi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Dewasa ini kematian maternal sangatlah tinggi dimana kematian ini disebabkan oleh beberapa factor diantaranya penyulit dan komplikasi – komplikasi pada saat kehamilan.Saat bersalin dan dalam 42 hari sesudah berakhirnya persalinan dimana keadaan ini mempengaruhi dan mengancam kesehatan ibu dan bayi.Sekarang ini AKI di Indonesia masih cukup tinggi yakni antara 750-1000 per 100.000 kelahiran hidup.
Sebagian komplikasi persalinan, kejadiannya tidak dapat diduga sebelum ataupun tidak dapat dihindari. Besarnya kemungkinan terjadi komplikasi persalinan tiap ibu tidak sama, tergantung keadaan elama kehamilan apakah ibu hamil tersebut tanpa masalah termasuk kelompok rendah atau resiko tinggi dan kehamilan resiko sangat tinggi.
                                                                                 (Sarwono, 2002 : 294)
Eklamsi pada umumnya didahului oleh makin memburuknya pre eklamsi dan terjadinya gejala – gejala nyeri kepala didaerah frontal, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejang. Terutama pada persalinan bahaya ini besar.
Diagnosis eklamsi umumnya tidak mengalami kesukaran.Dengan adanya tanda dan gejala preeklamsia yang disusul serangan kejang seperti telah diuraikan, maka diagnosis eklamsi sudah tidak diragukan. Walaupun demikian, eklamsi harus dibedakan dari : epilepsy (dalam anamnesis diketahui adanya serangan sebelum hamil atau pada hamil muda dan tanpa preeklamsia tidak ada, kejang karena obat anestesi, kejang karena sebab lain seperti diabetes, perdarahan otak, meningitis, ensefalitis, dan lain-lain
                                          (Sarwono, 2002:295)


1.2       Tujuan
1.2.1    Tujuan Umum
Setelah melakukan asuhan kebidanan patologis dengan eklamsi, Diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan asuhan kebidanan menurut 7 langkah Varney dengan pendekatan standar kebidanan secara komprehensif.
1.2.2    Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan asuhan kebidanan patologi dengan eklamsi diharapkan mahasiswa mampu :
1.      Mahasiswa mampu memahami tinjauan teori sesuai dengan kasus yang dibuat.
2.      Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
3.      Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah yang muncul dari hasil pengkajian asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
4.      Mahasiswa dapat mengatisipasi masalah potensial yang timbul dari masalah/diagnosa pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
5.      Mahasiswa dapat melakukan identifikasi kebutuhan segera pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
6.      Mahasiswa mampu mengembangkan rencana pada masalah yang muncul sesuai dengan rasional rencana tindakan yang ilmiah pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
7.      Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai dengan rencana yang sudah dilakukan pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
8.      Mahasiswa dapat mengevaluasi semua tindakan yang sudah dilakukan pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
9.      Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan secara menyeluruh pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi

1.3       Manfaat
1.      Mahasiswa dapat mengerti dan mengetahui tentang asuhan kebidanan patologis dengan kasus eklamsi
2.       Bahan masukan bagi mahasiswa/pembaca pada umumnya dan petugas kesehatan pada khususnya dalam memberikan asuhan kebidanan patologi dengan eklamsi

  
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1       KONSEP KEHAMILAN NORMAL
2.1.1    Definisi
1.      Kehamilan adalah masa yang dimulainya dari konsepsi sampai terlahirnya janin.
(Saifuddin, 2002:89)
2.      Masa kehamilan dimulai konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 10 hari) dihitung dari hari pertama hari terakhir.
                                                                          (Sarwono Prwirohardjo, 2000:95)
3.      Suatu kehamilan dimulai dari adanya ovum dan sperma yang akan mengalami pembuahan yaitu merupakan suatu peristiwa penyatuan antara sel sperma dan sel telur di tuba fallopi atau disebut juga kovepsi. Hasil konsepsi ini akan tertanam ke dalam endometrium. Perisitiwa ini disebut nidasi (implantasi) dan hasil konsepsi ini akan berkembang terus didalam rahim menjadi janin.
(Rustam Mochtar, 1998:17)
Proses kehamilan merupakan rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari :
1.      Ovulasi/pelepasan ovum.
2.      Terjadi migrasi spermatozoa dan ovum.
3.      Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot.
4.      Terjadi nidasi (implantasi) pada uterus.
5.      Pembentukan plasenta.
6.      Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai ovum.
                               (Manuaba, 2000:95)


2.1.2    Klasifikasi
Ditinjau dari tuanya kehamilan
-          Kehamilan trimester pertama   :  (0 – 12 minggu)
-          Kehamilan trimester kedua      : (12 – 28 minggu)
-          Kehamilan trimester ketiga      : (28 – 40 minggu)
2.1.3    Tanda dan Gejala kehamilan
1.      Tanda-tanda Presumtif
a.       Amenorhoe (tidak mendapat haid)
-     Konsepsi dan nifas menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel degraaf dan ovulasi.
-          Wanita harus mengetahui tanggal haid pertama haid terakhir (HT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran persalinan (TP) yang dihitung dengan rumus :
Naegle : TP (HPHT + 7) dan (bulan HT + 3).
b.      Mual (nause) dan Muntah (emesis)
-          Pengaruh hormon estrogen dan terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan.
-          Menimbulkan mual dan muntah terutama pagi hari yang disebut morning sickness.
-          Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat diatasi.
-          Bila mual dan muntah terlalu sering disebut hiperemesis.
-          Akibat mual muntah nafsu makan berkurang.
c.       Ngidam
Wanita hamil sering meminta makan atau minuman tertentu terutama pada bulan-bulan triwulan pertama.
d.      Sincope atau Pingsan
-          Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan (iskemia susunan saraf dan menimbulkan pingsan).
-          Keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.
e.       Sering Miksi
-          Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi.
-          Pada triwulan kedua sudah menghilang.
f.       Pigmentasi kulit
-          Sekitar pipi      : Cloasma gravidarum.
Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi kulit.
g.       Dinding perut   :          
-          Strie lividae
-          Strie nigra
-          Linea alba makinhitam.
h.      Payudara          :          
-          Hiperpigmentasi areola mammae.
-          Puting susu menonjol.
-          Kelenjar Montgomery menonjol.
-          Payudara menjadi lebih keras.
i.        Varises atau penampakan pembuluh darah vena
-          Karena pengaruh estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai bakat.
-          Penampakan pembuluh darah terjadi disekitar genetalis dan eksterna, kaki dan betis dan payudara.
-          Penampakkan pembuluh darah ini dapat menghilang setelah persalinan.
2.      Tanda-tanda kemungkinan kehamilan
a.       Rahim membesar sesuai usai dengan tuanya kehamilan.
b.      Pada pemeriksaan dijumpai:
-          Tanda hegar           : Pada pemeriksaan dalam teraba istmus dan porsio lunak.
-          Tanda chadwik      : Vulva dan vagina kebiru-biruan
-          Tanda piscaseck    : Uterus tidak rata akibat implantasi.
-          Kontraksi Braxton Hicks. 
-          Teraba ballotement.
-          Reaksi kehamilan positif.
3.      Tanda pasti kehamilan
a.       Gerakan janin dapat dirasakan atau diraba.
b.      Denyut jantung janin.
-          Didengar dengan stetoskop laennec, alat kardiotokografi, alat dofler.
-          Dilihat dengan ultrasonografi.
c.       Teraba ballotement yaitu bagian keras yang melenting di dalam suatu kantung (uterus).
2.1.4        Diagnosis Banding Kehamilan
Pembesaran perut wanita tidak selamanya suatu kehamilan sehingga perlu dilakukan diagnosis diantaranya :
1.      Hamil palsu (psaldocyesis) atau kehamilan spurta
Dijumpai tanda dugaan hamil, tetapi dengan pemeriksaan alat canggih dan tes biologis tidak menunjukkan kehamilan.
2.      Tumor kandungan atau mioma uteri.
a.       Terdapat pembesaran rahim, tetapi tidak disertai tanda hamil.
b.      Bentuk pembesaran tidak merata.
c.       Perdarahan banyak saat menstruasi.
3.      Kista ovarium
a.       Pembesaran perut, tetapi tidak disertai tand ahamil.
b.      Datang bulan terus berlangsung lamanya pembesaran perut dapat melampaui umur kehamilan.
c.       Pemeriksaan tes biologis kehamilan dengan hasil negatif.
4.      Hemotometra
a.       Terlambat bulan yang dapat melampaui umur kehamilan.
b.      Perut terasa sakit tiap bulan.
c.       Terjadi tumpukan darah dalam rahim.
d.      Sebab himen inperforata.
5.      Kandung kemih yang penuh
Dengan melakukan kateterisasi, maka pembesaran perut akan hilang.

2.1.5        Perubahan Anatomi dan Fisologi pada Ibu Hamil
1.      Uterus
Uterus bertambah besar disebabkan hypotermi dari otot-otot rahim, berat uterus naik secara luar biasa dari 30 gram menjadi 1000 gram. Peredaran darah rahim bertambah sesuai dengan bertambah besarnya rahim terjadi perlunakan serviks karena pembuluh darah dalam serviks bertambah.
2.      Vagina
Pembuluh darah dinding vagina bertambah, hingga wana selaput lendirnya membiru tanda Chadwick. Reaksi asam pH 5-6 mempunyai sifat bakterisida.
3.      Ovarium
Ovulasi terhent dengan terjadinya kehamilan, indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur 16 minggu.
4.      Dinding perut
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robekan serabut elastis di bawah kulit, sehingga timbul striae gravidarum. Bila terjadi peregangan yang hebat misalnya pada hidramnion dan kehamilan ganda dapat terjadi diastasis rekti bahkan hernia. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut linea nigra.
5.      Kulit
Pada daerah kulit tertentu terjadi hiperpigmentasi, muka cloasma gravidarum, payudara, puting susu dan areola mammae, perut linea nigra.
6.      Payudara
Membesar menyebabkan hipertrofi, sering mnyebabkan hipersensitivitas pada mammae. Dibawah kulit payudara sering nampak gamabaran-gambaran dari vena yang meluas. Puting susu biasanya membesar dan lebih tua warnaya dan acapkali mengeluarkan kolostrum.
7.      Sistem Pernapasan
Terjadi sesak napas dan nafas pendek terutama pada usia kehamilan 32 minggu ketas, karena usus yang menekan diafragma sehingga diafragma kurang lelauasa bergerak. Kebutuhan oksigen meningkat dari 11.7 kPa – 13 kPa.
8.      Saluran Pencernaan
Salivasi meningkat pada trimester I, meneluh mual dan muntah. Tonus otot-otot saluran percernaan melemah sehingga motilitas dan makan akan berada lebih lama dalam saluran makanan.
9.      Tulang dan Gigi
Persendian panggul akan terasa lebih longgar, karena ligamen-ligamen melunak juga terjadi sedikit pelebaran pada ruang persendian. Apabila pemberian makanan tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium janin, kalsium maternal akan berkurang untuk memenuhi kebutuhan ini. Bila konsumsi cukup, gigi tidak akn kekurangan kasium. Apa yang disebut gingivitis kehamilan adalah gangguan yang disebabkan oleh faktor lain, misalnya hygiene yang buruk disekitar mulut.
10.  Darah
Voleme darah bertambah, baik plasma maupun eritrositnya, tetapi penambahan volume plasma disebabkan oleh hidremia lebih menonjol hongga biasanya kadar Hb menurun. Batas fisiologis, Hb 10 gr%, eriterisit 3,5 juta/mm3, leukosit 8000-10000/mm3.
11.  Metabolisme
Berat badan wanita hamil akan naik sekitar 6,5-16,5 kg. Kebutuhan kalori meningkat selam kehamila dan laktasi.
a.       Metabolisme Air
-          Retensi air meningkat karena turunnya osmolalitas plasma.
-          Penurunan tekanan osmotik koloid : oedema pada akhir kehamilan.
b.      Metabolisme Protein
-          Konsistensi albumin menurun filarinogen, IgG, IgA dan IgM akan menurun, kemungkinan karena efek hemodilusi dan tekanan sistem kekebalan tubuh.
c.       Metabolisme Karbohidrat
-          Peningkatan somatomamotropin dan plasma insulin menyebabkan sering haus, nafsu makan, sering kencing, kadang glukosuria.
d.      Basal Metabolisme Indirek (BMI)
-          Merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa.
-          Rumus hanya cocok diterapkan pada usia 19-70 tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet/binaraga serta bumil dan menyusui.
-          Rumus : BB (kg)/kuadrat TB (m).
-          Nilai : kurang (<19.8) normal (19.8 – 26.1), lebih (>26,1 – 89.0), obesitas (> 29.0).

2.1.6        Pemeriksaan dan Pengawasan Ibu Hamil
Tujuan umum dari pemeriksaan adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan  mental ibu dan anak selama dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga di dapatkan ibu dan anak sehat.
Tujuan khusus adalah :
1.      Mengenali dan menangani penyulit – penyulit yang mungkin di jumpai  dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
2.      Mengenali dan mengobati penyakit – penyakit yang mungkin di derita sedini mungkin.
3.      Menurunkan angka mortalitas ddan morbiditas ibu dan anak.
4.      Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga terencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Perawatan Antenatal mencakup :
1.      Pengawasan kehamilan untuk melihat apakah segalanya berlangsung normal.
2.      Penyulitan atau pendidikan mengenai kehamilan.
3.      Persiapan (baik fisik maupun psikologis) bagi persalinan.
4.      Dukungan jika terdapat masalah-masalah sosial atau psikologis.


Jadwal pemeriksaan kehamilan
1.      Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambatnya 1 bulan.
2.      Periksa ulang 1 x sebutkan sampai usia kehamilan 7 bulan.
3.      Periksa ulang 2 x sebutkan sampai kehamilan 9 bulan.
4.      Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.

2.2              KEHAMILAN RESIKO TINGGI

2.3.1        Pengertian
1.      Kehamilan resiko tinggi adalah keadaan yang dapat mepengaruhi optimalisuri ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi.
                                                               (Manuaba, 2000:161)
2.      Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan dengan satu atau lebih faktor resiko, baik dari pihak ibu maupun janinnya yang memberi dampak kurang menguntungkan baik bagi ibu maupun janinnya, memiliki resiko kegawatan tetapi tidak darurat.
3.      Kehamilan resiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki resiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya) akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan.
       (http://www.google.com.diaksespadatanggal 11 April 2012)







2.3.2        Skor Poedji Rochyati
Kelompok Faktor Resiko
No.
Keadaan Ibu Hamil
Skor
Skor awal ibu hamil
2
I
1.
Terlalu muda, hamil I ≤ 16 tahun
4
2.
Terlalu tua, hamil I ≥ 35 tahun
4

Terlalu lambat hamil I, kawin ≥ 4 tahun
4
3.
Terlalu lama hamil lagi (≥ 10 th)
4
4.
Terlalu cepat hamil lagi (< 2 tahun)
4
5.
Terlalu banyak anak, 4/lebih
4
6.
Terlalu tua, umur ≥ 35 th
4
7.
Terlalu pendek atau ≤ 145 cm
4
8.
Pernah gagal kehamilan
4
9.
Pernah melahirkan dengan :
4

a. Tarik tang/vakum
4

b. Uri dirogoh
4

c. Diberi infus/transfuse
4
10.
Pernah operasi sesar
8
II
11.
Penyakit pada ibu hamil :


a.   Kurang darah
4

b.  Malaria
4

c.   TBC paru
4

d.  Payah jantung
4


d.  Kening manis (Diabetes Mellitus)
4

e.   Penyakit menular seksual
4
12.
Bengkak pada muka/tungkai dan tekanan darah tinggi
4
13.
Hamil kembar 2 atau lebih
4
14.
Hamil kembar air (hydramnion)
4
15.
Bayi mati dalam kandungan
4
16.
Kehamilan lebih bulan
4
17.
Letak sungsang
8
18.
Letak lintang
8
III
19.
Perdarahan dalam kehamilan ini
8
20.
Preeklamsia berat/kejang-kejang
8

JUMLAH SKOR
8








2.4              EKLAMSI
2.4.1    Pengertian
1.   Eklamsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grandmal dan mungkin timbul sebelum, selama atau setelah persalinan.
(Obstetri Williams, 2006:628)
2.   Eklamsi dalam bahasa yunani berarti ”halilintar”, karena serangan kejang-kejang timbul tiba-tiba seperti petir.
(Rustam Mochtar, 1998. hal : 203)
3.   Eklamsi adalah bentuk pre eklampsi yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang atau koma.
4.   Eklamsi adalah penyakit akut dengan kejang dan koma pada wanita hamil dan wanita dalam nifas disertai dengan hypertensi oedema dan proteinuria.
                                                            (UNPAD, 2000:99)

Eklamsi adalah sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya  perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas endotel. Proteinuria adalah penting preeklamsi, dan Chesley (1985) dengan tepat menyimpulkan bahwa apabila tidak terdapat proteinuria, diagnosisnya dipertanyakan.Proteinuria didefinisikan sebagai terdapatnya 300 mg atau lebih protein dalam urin 24 jam atau 30 mg/dl (+ 1 pada dipstik) secara menetap pada sample acak urin. Derajat proteinuria dapat berfluktuasi sangat luas dalam periode 24 jam, bahkan pada kasus yang parah.
Nyeri epigasterium atau kuadrum kanan atas tampaknya merupakan akibat nekrosis, iskemia, dan edema hepatoselular yang merengangkan kapsul Glisson.Nyeri khas ini sering disertai oleh peningkatan enzim hati dalam serum, dan biasanya adalah tanda untuk mengakhiri kehamilan.Nyeri menandai infark dan perdarahan hati serta ruptur suatu hematom subkapsul yang sangat berbahaya.
Trombositipenia adalah cirri memburuknya preeklamsi, dan mungkin disebabkan oleh aktivasi dan agregasi trombosit serta hemolisis mikroangiopati yang dipicu oleh vasospasme hebat.Tanda-tanda hemolisis yang berat seperti hemoglobinemia, hemoglobinuria, atau hiperbilurubenemia menunjukkan penyakit yang parah.
Faktor lain yang menunjukkan keparahan hipertensi adalah disfungsi jantung dengan edema paru serta pertumbuhan janin terhambat yang nyata.
Eklamsi adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grandmal dan mungkin timbul sebelum, selama atau setelah persalinan.. Namun, kejang yang timbul lebih dari 48 jam postpartum, terutama pada nulipara, dapat dijumpai sampai 10 hari postpartum.

Diagnosis adanya hipertensi kronik diisyaratkan oleh :
1.      Hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) sebelum hamil.
2.      Hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) yang terdeteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu (kecuali apabila terdapat penyakit troboblastik gestasional).
3.      Hipertensi yang menetap lama setelah melahirkan.

2.4.2    Etiologi
Berdasarkan penelitian, disimpulkan bahwa penyakit ini lebih sering terjadi pada kehamilan pertama, kehamilan kembar, kehamilan air, dan kehamilan anggur. Makin tua umur kehamilan, makin tinggi frekuensi penyakit.


2.4.3 Patologi

Pada preeklamsia yang berat dan eklamsia dijumpai perburukan patologis fungsi sejumlah organ dan sistem, mungkin akibat vasospasme dan iskemia. Untuk mempermudah penjelasan, efek-efek ini dipisahkan menjadi efek pada ibu dan janin; namun, kedua efek merugikan ini sering terjadi bersamaan. Walaupun terdapat banyak kemungkinan konsekuensi gangguan hipertensi akibat kehamilan, untuk memudahkan, efek-efek tersebut dibahas berdasarkan analisis terhadap perubahan kardiovaskular, hematologis, endokrin dan metabolik, serta aliran darah regional disertai gangguan end-organ. Kausa utama gangguan janin adalah berkurangnya perfusi utero plasenta.
  • Perubahan Kardiovaskuler

Gangguan –gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklamsia dan eklamsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan  dengan meningkatnya afterload jantung akibat hipertensi, prrload jantung secara nyata dipegaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik atau kristaloid intravena, dan aktivasi endotel disertai ekstravasasi ke dalam ruang ekstraselular, terutama paru.
  • Perubahan Hemodinamik

Perubahan kardiovaskular akibat preeklamsia telah diteliti dengan menggunakan pemantauan hemodinamik invasif. Namun, bila preeklamsia telah menjadi nyta secara klinis, studi-studi hemodinamik invasif semacam itu kecil kemungkinan dapat memberi informasi yang bermanfaat mengenai perjalanan penyakit pada awal kehamilan.
  • Perubahan Hematologis

Kelainan hematologis terjadi pada sebagian, tetapi jelas tidak semua wanita yang menderita gangguan hipertensi akibat kehamilan. Kelainan tersebut antara lain trombositopenia, yang kadang-kadang sangat parah sehingga dapat mengancam nyawa; kadar sebagian faktor pembekuan dalam plasma mungkin menurun; dan eritrosit dapat mengalami trauma hebat sehingga bentuknya aneh dan mengalami hemolisis cepat.
  • Pembekuan

Perubahan tersamar yang mengarah ke koagulasi intravaskuler, dan destruksi eritrosit (lebih jarang), sering dijumpai pada preeklamsia dan terutama eklamsia.
  • Trombositopenia

Trombositopenia yang nyata, yang didefinisikan sebagai hitung trombosit kurang dari 100.000/ml, menunjukkan penyakit yang parah. Pada sebagian besar kasus, pelahiran diindikasikan karena hitung trombosit terus menurun.
Penyebab trombositopenia kemungkinan besar adalah aktivasi dan konsumsi trombosit pada saat yang sama dengan peningkatan produksi trombosit. Trombopoietin, suatu sitokin yang meningkatkan  proliferasi trombosit  dari megakariosit, meningkatkan pada wanita dengan preeklamsia dan trombositopenia (Frolich dkk., 1998).
Makna klinis trombositopenia, selain jelas mengganggu pembekuan darah, adalah bahwa hal tesebut  mencerminkan keparahan proses patologis. Secara umum, semakin rendah hitung trombosit, semakin besar morbiditas dan mortalitas ibu serta janin (Leduc dkk., 1992). Adanya peningkatan kadar enzim hati pada gambaran klinis ini bahkan lebih merugikan. Weinstein (1982) menyebut kombinasi hemolisis (H), peningkatan enzim hati (elevated liver enzymes, EL), penurunan trombosit (low platelets, LP).
  • Trombositopenia Neonatal.

Trombositopenia berat pada janin atau bayi pada saat atau segera setelah lahir. Trombositopenia memang timbul kemudian pada sebagian dari bayi ini setelah terjadi hipoksia, asidosis, dan sepsis. Oleh karenanya, trombositopenia pada wanita dengan hipertensi bukan merupakan indikasi janin untuk seksio sesarea.
  • Hemolisis Fragmentasi.

Trombositopenia pada preeklamsia berat dan eklamsia dapat disertai oleh destruksi eritrosit yang ditandai dengan hemolisis, skizositosis, sferositosis, retikulositosis, hemoglobinuria, dan terkadang hemoglobinemia (Pritchard dkk., 1945, 1976). Sanchez Ramos dkk., (1994a) melaporkan peningkatan fluiditas membran eritrosit pada wanita dengan sindrom HELLP dan mempostulasikan bahwa perubahan-perubahan ini merupakan predisposisi hemolisis. Grisaru dkk. (199&0 memperlihatkan bahwa perubahan membran eritrosit  mungkin mempermudah terjadinya keadaan hiperkoagulasi.
  • Faktor pembekuan lain.

Defisiensi berat setiap faktor pembekuan terlarut sangat jarang pada preeklamsia berat-eklamsia kecuali terjadi proses lain yang merupakan predisposisi koagulopati konsumtif, misalnya solusio plasenta atau perdarahan hebat akibat infark hati.
  • Perubahan Endokrin dan Metabolik

Perubahan endokrin. Selama kehamilan normal kadar renin, angiotensin II, dan aldosteron dalam plasma meningkat. Penyakit hipertensi akibat kehamilan menyebabkan kadar berbagai zat ini menurun kekisaran tidak hamil normal.
  • Perubahan Cairan dan Elektrolit

Umumnya, volume cairan ekstraselular, yang bermanifestasi sebagai edema, pada wanita dengan preeklamsia berat-eklamsia meningkat melebihi peningkatan normal yang lazim pada kehamilan. Edema tidak selalu berarti prognosis buruk, sebaliknya tidak adanya edema tidak menjamin prognosis yang baik.
Setelah kejang eklamtik, konsentrasi bikarbonat menurun akibat asidosis asam laktat dan pengeluaran karbondioksida kompensatorik dari paru  
  • Ginjal

Selama kehamilan normal, aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat cukup besar. Proteinuria. Untuk memmastikan diagnosis preeklamsia-eklamsia harus terdapat proteinuria. Namun, karena proteinuria muncul belakangan, sebagian wanita mungkin sudah melahirkan sebelum gejala ini dijumpai. Meyer dkk. (1994) menekankan- bahwa yang diukur adalah ekskresi urin 24 jam. Mereka mendapatkan bahwa proteinuria + 1 atau lebih dengan dipstik memperkirakan minimal terdapat 300 mg protein per 24 jam pada 92 persen kasus. Sebaliknya, proteinuria yang samar (trace) atau negatif memiliki nilai prediktif negatif hanya 34 +3 atau +4 hanya bersifat prediktif positif untuk preeklamsia berat pada 36 persen kasus.
Albuminuria merupakan istilah yang salah untuk menjelaskan proteinuria pada preeklamsia. Seperti pada glomeruopati lainnya, terjadi peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar protein dengan berat molekul tinggi; maka, peningkatan ekskresi albumin juga disertai oleh protein lain, misalnya hemoglobin, globulin, dan transferin. Biasanya molekul-molekul protein besar ini tidak difiltrasi oleh glomerulus dan kemunculan zat-zat ini didalam urin mengisyaratkan terjadinya proses glomerulopati.
  • Hepar

Pada preeklamsia berat, kadang-kadang terjadi perubahan fungsi dan integritas hepar, termasuk perlambatan ekskresi bromosulfoftalein dan peningkatan kadar aspartat amniotransferase serum (Combes dan Adams, 1972). Hiperbilirubinemia yang parah jarang terjadi bahkan pada preeklamsia berat (Pitchard dkk., 1976).
Nekrosis hemoragik periporta dibagian periferlobulus hepar kemungkinan besar merupakan penyebab meningkatnya kadar enzim hati dalam serum.
  
  • Sindrom Hellp

Keterlibatan hepar pada peeklamsia-eklamsia adalah hal yang srius dan sering disertai oleh tanda-tanda keterlibatan organ lain, terutama ginjal dan otak, bersama dengan hemolisis dan trombositopenia. Keadaan ini sering disebut sebagai sindrom HELLP-Hemolisis, peningkatan enzim hati (Elevated liver enzymes), dan penurunan trombosit (Low Platelet).
  • Otak

Manifestasi preeklamsia, dan terutama kejang pada eklamsia, pada susunan saraf pusat telah lama diketahui. Secara khusus, banyak perhatian ditujukan kepada gejala penglihatan. Penjelasan paling awal tentang keterlibatan otak berasal dari pemeriksaan makroskopik dan histologis, tetapi tekni-teknik modern noninvasif, misalnya pemeriksaan pencitraan dan Doppler, telah menambah pemahaman baru tentang keterlibatan serebrovaskular.
  • Edema Serebri

Manifestasi susunan saraf pusat edema serebri yang luas merupakan hal yang mengkhawatirkan. Pada sebagian kasus, gambaran utama adalah kesadaran berkabut dan kebingungan, dan gejala ini hilang timbul.
  • Aliran Darah Otak

Wanita yang mengalami eklamsia seolah-olah mengalami kehilangan transien autoregulasi vaskuler otaknya. Kesimpulan juga didukung oleh bukti adanya daerah-daerah densitas rendah yang luas dan dikonfirmasi oleh pencintraan CT scan dan MRI .
2.4.4    Gejala
2.      Sakit kepala yang keras.
3.      Penglihatan kabur.
4.      Kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahului serangan kejang.
5.      Tekanan darah > 140/90 mmHg.
6.      Terjadi proteinuria.
7.      Terjadinya penimbunan cairan dalam jaringan tubuh sehingga ada pembengkakan pada tungkai dan kaki.
8.      Serta kejang-kejang.
2.4.5    Komplikasi Eklamsi
1.      Sindrom Hellp
a.       Hemolitis )pengeluaran sel darah merah).
b.      Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati).
c.       Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah).
2.      Kejang
a.       Lidah tergigit
b.      Patah tulang
c.       Gangguan pernapasan
d.      Pendarahan otak
e.       Terlepasnya uri dari rahim
Menurut saat terjadinya eklamsi
1.      Eklamsi atepartum adalah eklamsi yang terjadi sebelum persalinan.
2.      Eklamsi intrapartum adalah eklamsi sewaktu persalinan.
3.      Eklamsi post partum adalah eklamsi setelah persalinan.
Pada kehamilan preterm £ 34 minggu akan dilakukan terminasi pemberian kostikosteroid seperti Dexametasone atau Betametasone untuk pematangan paru.
Obat-obat yang dapat diberikan :
1.      Magnesium sulfat
2.      Anti hipertensi
3.      Kortikosteroid : Dexametasone atau Betametasone
Magnesium sulfat dapat diberikan menurut Regim Prihant. Awalnya diberikan 4 gram secara IV selama 4-5 menit dan 10 mg secara intramuskuler.

2.4.6 Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit eklamsia adalah :
1.      Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinnya.
2.      Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
3.      Pemulihan sempurna kesehatan ibu.

ü  Penatalaksanaan Bidan
1.      Melakukan Observasi TTV (TD,Nadi,Suhu,RR)
2.      Pemberian infus dan O2 untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3.      Melakukan Rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai

ü  Penatalaksanaan Dirumah Sakit
1.      Pemeriksaan terinci diikuti oleh pemantauan setiap hari untuk mencari temuan-temuan klinis seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, dan pertambahan berat yang pesat.
2.      Berat badan saat masuk dan kemudian setiap hari.
3.      Analisis untuk proteinuria saat masuk dan kemudian paling tidak setiap 2 hari.
4.      Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk dengan ukuran manset yang sesuai setiap 4 jam, kecuali antara tengah malam dan pagi hari.
5.      Pengukuran kreatinin plasma atau serum, hematolrit, trombosit, dan enzim hati dalam serum, dan frekuensi yang ditentukan oleh keparahan hipertensi.
6.      Terminasi kehamilan

Terminasi Kehamilan
Pelahiran janin adalah penyembuhan bagi preeklamsi. Nyeri kepala, gangguan penglihatan, atau nyeri epigastrium merupakan petunjuk bahwa akan terjadi kejang, dan oliguria adalah tanda buruk lainnya. Terapi serupa dengan yang akan dijelaskan kemudian untuk eklamsia. Tujuan utama adalah mencegah kejang, perdarahan intrakranial dan kerusakan serius pada organ vital lain, serta melahirkan bayi yang sehat.
Namun, apabila penundaan persalinan dengan prematur, cenderung penundaan persalinan dengan harapan bahwa tambahan beberapa minggu in utero akan menurunkan resiko kematian atau morbiditas serius pada neonatus. Dilakukan penilaian kesejahteraan janin dan fungsi plasenta, terutama apabila terdapat keengganan untuk melahirkan janin dengan alasan prematuritas. Sebagian besar peneliti menganjurkan pemeriksaan berkala berbagai uji yang saat ini digunakan untuk menilai kesejahteraan janin.

BAB III
PENUTUP

3.1        Kesimpulan
            Eklamsi adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grand mal dan mungkin timbul sebelum selama atau persalinan. Pada kehamilan preterm £ 34 minggu akan dilakukan terminasi pemberian kortikosteroid seperti dexametason atau betametason untuk pematangan paru.
3.2    Saran
3.2.1 Bagi Petugas Kesehatan
-          Diharapkan dalam memberikan asuhan memegang prinsip memenuhi kebutuhan pasien.
-          Diharapkan petugas mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk dapat melakukan tindakan secara komprehensif
-          Memberikan dukungan dan motivasi serta bimbingan pada ibu mengenai proses persalinan.
3.2.2 Bagi keluarga
-          Selalu kooperatif dengan petugas dalam pemberian pelayanan kesehatan
-          Untuk selalu memberikan dukungan kepada ibu agar psikologisnya kuat.



DAFTAR PUSTAKA

ü  Doegoes, M. E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Jakarta : EGC.
ü  Mochtar Rustam 1998. Sinopsisl Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC.
ü  Manuaba Ida Bagus. 2000. Ilmu Kebidanan Penyakit Dalam dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
ü  R. Gary Cunningham et all. 2006. Obsterti Williams, ed 21- Vol. 2. Jakarta : EGC
ü  Saifuddin, 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Hal : Jakarta : YBPSP.
ü  Sarwono Prawirohardjo. 2002. Ilmu Kebidanan.  Jakarta : EGC.

ü  UNPAD. 2000. Obstetri Patologi. Bandung : UNPAD.