BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dewasa ini kematian maternal sangatlah tinggi dimana kematian
ini disebabkan oleh beberapa factor diantaranya penyulit dan komplikasi –
komplikasi pada saat kehamilan.Saat bersalin dan dalam 42 hari sesudah
berakhirnya persalinan dimana keadaan ini mempengaruhi dan mengancam kesehatan
ibu dan bayi.Sekarang ini AKI di Indonesia masih cukup tinggi yakni antara
750-1000 per 100.000 kelahiran hidup.
Sebagian komplikasi persalinan, kejadiannya tidak dapat
diduga sebelum ataupun tidak dapat dihindari. Besarnya kemungkinan terjadi komplikasi
persalinan tiap ibu tidak sama, tergantung keadaan elama kehamilan apakah ibu
hamil tersebut tanpa masalah termasuk kelompok rendah atau resiko tinggi dan
kehamilan resiko sangat tinggi.
(Sarwono,
2002 : 294)
Eklamsi pada umumnya didahului oleh makin memburuknya pre
eklamsi dan terjadinya gejala – gejala nyeri kepala didaerah frontal, gangguan
penglihatan, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal
dan tidak segera diobati, akan timbul kejang. Terutama pada persalinan bahaya
ini besar.
Diagnosis eklamsi umumnya tidak mengalami kesukaran.Dengan
adanya tanda dan gejala preeklamsia yang disusul serangan kejang seperti telah
diuraikan, maka diagnosis eklamsi sudah tidak diragukan. Walaupun demikian,
eklamsi harus dibedakan dari : epilepsy (dalam anamnesis diketahui adanya
serangan sebelum hamil atau pada hamil muda dan tanpa preeklamsia tidak ada,
kejang karena obat anestesi, kejang karena sebab lain seperti diabetes,
perdarahan otak, meningitis, ensefalitis, dan lain-lain
(Sarwono,
2002:295)
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah melakukan
asuhan kebidanan patologis dengan eklamsi, Diharapkan mahasiswa dapat
melaksanakan asuhan kebidanan menurut 7 langkah Varney dengan pendekatan
standar kebidanan secara komprehensif.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan asuhan kebidanan patologi dengan eklamsi diharapkan
mahasiswa mampu :
1. Mahasiswa mampu memahami tinjauan teori sesuai dengan kasus yang dibuat.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
3. Mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah yang muncul dari
hasil pengkajian asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
4. Mahasiswa dapat mengatisipasi masalah potensial yang timbul dari
masalah/diagnosa pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
5. Mahasiswa dapat melakukan identifikasi kebutuhan segera pada asuhan
kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
6. Mahasiswa mampu mengembangkan rencana pada masalah yang muncul sesuai
dengan rasional rencana tindakan yang ilmiah pada asuhan kebidanan patologi
dengan kasus eklamsi
7. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai dengan rencana yang sudah
dilakukan pada asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
8. Mahasiswa dapat mengevaluasi semua tindakan yang sudah dilakukan pada
asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
9. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan secara menyeluruh pada
asuhan kebidanan patologi dengan kasus eklamsi
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengerti dan mengetahui tentang asuhan kebidanan patologis
dengan kasus eklamsi
2. Bahan masukan bagi mahasiswa/pembaca pada umumnya dan petugas kesehatan
pada khususnya dalam memberikan asuhan kebidanan patologi dengan eklamsi
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 KONSEP
KEHAMILAN NORMAL
2.1.1 Definisi
1. Kehamilan adalah masa yang dimulainya dari konsepsi sampai terlahirnya
janin.
(Saifuddin,
2002:89)
2. Masa kehamilan dimulai konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 10 hari) dihitung dari hari pertama
hari terakhir.
(Sarwono Prwirohardjo, 2000:95)
3. Suatu kehamilan dimulai dari adanya ovum dan sperma yang akan mengalami
pembuahan yaitu merupakan suatu peristiwa penyatuan antara sel sperma dan sel
telur di tuba fallopi atau disebut juga kovepsi. Hasil konsepsi ini akan
tertanam ke dalam endometrium. Perisitiwa ini disebut nidasi (implantasi) dan
hasil konsepsi ini akan berkembang terus didalam rahim menjadi janin.
(Rustam Mochtar, 1998:17)
Proses kehamilan merupakan rantai yang berkesinambungan dan terdiri dari :
1.
Ovulasi/pelepasan ovum.
2.
Terjadi migrasi spermatozoa dan ovum.
3.
Terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot.
4.
Terjadi nidasi (implantasi) pada uterus.
5.
Pembentukan plasenta.
6.
Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai ovum.
(Manuaba, 2000:95)
2.1.2 Klasifikasi
Ditinjau dari tuanya kehamilan
-
Kehamilan trimester pertama : (0 – 12 minggu)
-
Kehamilan trimester kedua :
(12 – 28 minggu)
-
Kehamilan trimester ketiga :
(28 – 40 minggu)
2.1.3 Tanda
dan Gejala kehamilan
1. Tanda-tanda Presumtif
a. Amenorhoe (tidak mendapat haid)
- Konsepsi dan nifas menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel degraaf dan ovulasi.
-
Wanita harus mengetahui tanggal haid pertama haid terakhir (HT)
supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran persalinan (TP) yang dihitung
dengan rumus :
Naegle
: TP (HPHT + 7) dan (bulan HT + 3).
b. Mual (nause)
dan Muntah (emesis)
-
Pengaruh hormon estrogen dan terjadi
pengeluaran asam lambung yang berlebihan.
-
Menimbulkan mual dan muntah terutama pagi
hari yang disebut morning sickness.
-
Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat
diatasi.
-
Bila mual dan muntah terlalu sering disebut hiperemesis.
-
Akibat mual muntah nafsu makan berkurang.
c. Ngidam
Wanita hamil sering meminta makan atau minuman tertentu
terutama pada bulan-bulan triwulan pertama.
d. Sincope
atau Pingsan
-
Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah
kepala (sentral) menyebabkan (iskemia susunan saraf dan menimbulkan
pingsan).
-
Keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.
e. Sering Miksi
-
Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan sering miksi.
-
Pada triwulan kedua sudah menghilang.
f. Pigmentasi
kulit
-
Sekitar pipi : Cloasma gravidarum.
Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior
menyebabkan pigmentasi kulit.
g. Dinding perut :
-
Strie lividae
-
Strie nigra
-
Linea alba makinhitam.
h. Payudara :
-
Hiperpigmentasi areola mammae.
-
Puting susu menonjol.
-
Kelenjar Montgomery menonjol.
-
Payudara menjadi lebih keras.
i.
Varises atau penampakan pembuluh darah vena
-
Karena pengaruh estrogen dan progesteron
terjadi penampakan pembuluh darah vena, terutama bagi mereka yang mempunyai
bakat.
-
Penampakan pembuluh darah terjadi disekitar
genetalis dan eksterna, kaki dan betis dan payudara.
-
Penampakkan pembuluh darah ini dapat
menghilang setelah persalinan.
2. Tanda-tanda kemungkinan kehamilan
a. Rahim membesar sesuai usai dengan tuanya kehamilan.
b. Pada pemeriksaan dijumpai:
-
Tanda hegar :
Pada pemeriksaan dalam teraba istmus dan
porsio lunak.
-
Tanda chadwik :
Vulva dan vagina kebiru-biruan
-
Tanda piscaseck : Uterus tidak rata akibat
implantasi.
-
Kontraksi Braxton Hicks.
-
Teraba ballotement.
-
Reaksi kehamilan positif.
3. Tanda pasti kehamilan
a. Gerakan janin dapat dirasakan atau diraba.
b. Denyut jantung janin.
-
Didengar dengan stetoskop laennec,
alat kardiotokografi, alat dofler.
-
Dilihat dengan ultrasonografi.
c. Teraba ballotement yaitu bagian keras yang melenting di dalam suatu
kantung (uterus).
2.1.4
Diagnosis Banding Kehamilan
Pembesaran perut wanita tidak selamanya suatu
kehamilan sehingga perlu dilakukan diagnosis diantaranya :
1. Hamil palsu (psaldocyesis) atau kehamilan spurta
Dijumpai tanda dugaan hamil, tetapi dengan
pemeriksaan alat canggih dan tes biologis tidak menunjukkan kehamilan.
2. Tumor kandungan atau mioma uteri.
a. Terdapat pembesaran rahim, tetapi tidak disertai tanda hamil.
b. Bentuk pembesaran tidak merata.
c. Perdarahan banyak saat menstruasi.
3. Kista ovarium
a. Pembesaran perut, tetapi tidak disertai tand ahamil.
b. Datang bulan terus berlangsung lamanya pembesaran perut dapat melampaui
umur kehamilan.
c. Pemeriksaan tes biologis kehamilan dengan hasil negatif.
4. Hemotometra
a. Terlambat bulan yang dapat melampaui umur kehamilan.
b. Perut terasa sakit tiap bulan.
c. Terjadi tumpukan darah dalam rahim.
d. Sebab himen inperforata.
5. Kandung kemih yang penuh
Dengan melakukan kateterisasi, maka
pembesaran perut akan hilang.
2.1.5
Perubahan Anatomi dan Fisologi pada Ibu Hamil
1. Uterus
Uterus bertambah besar disebabkan hypotermi
dari otot-otot rahim, berat uterus naik secara luar biasa dari 30 gram menjadi
1000 gram. Peredaran darah rahim bertambah sesuai dengan bertambah besarnya
rahim terjadi perlunakan serviks karena pembuluh darah dalam serviks bertambah.
2. Vagina
Pembuluh darah dinding vagina bertambah,
hingga wana selaput lendirnya membiru tanda Chadwick. Reaksi asam pH 5-6
mempunyai sifat bakterisida.
3. Ovarium
Ovulasi terhent dengan terjadinya kehamilan,
indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya
sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada umur 16 minggu.
4. Dinding perut
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan
menyebabkan robekan serabut elastis di bawah kulit, sehingga timbul striae
gravidarum. Bila terjadi peregangan yang hebat misalnya pada hidramnion dan
kehamilan ganda dapat terjadi diastasis rekti bahkan hernia. Kulit perut pada
linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut linea nigra.
5. Kulit
Pada daerah kulit tertentu terjadi
hiperpigmentasi, muka cloasma gravidarum, payudara, puting susu dan areola
mammae, perut linea nigra.
6. Payudara
Membesar menyebabkan hipertrofi, sering
mnyebabkan hipersensitivitas pada mammae. Dibawah kulit payudara sering nampak
gamabaran-gambaran dari vena yang meluas. Puting susu biasanya membesar dan
lebih tua warnaya dan acapkali mengeluarkan kolostrum.
7. Sistem Pernapasan
Terjadi sesak napas dan nafas pendek terutama
pada usia kehamilan 32 minggu ketas, karena usus yang menekan diafragma sehingga
diafragma kurang lelauasa bergerak. Kebutuhan oksigen meningkat dari 11.7 kPa –
13 kPa.
8. Saluran Pencernaan
Salivasi meningkat pada trimester I, meneluh
mual dan muntah. Tonus otot-otot saluran percernaan melemah sehingga motilitas
dan makan akan berada lebih lama dalam saluran makanan.
9. Tulang dan Gigi
Persendian panggul akan terasa lebih longgar,
karena ligamen-ligamen melunak juga terjadi sedikit pelebaran pada ruang
persendian. Apabila pemberian makanan tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium
janin, kalsium maternal akan berkurang untuk memenuhi kebutuhan ini. Bila
konsumsi cukup, gigi tidak akn kekurangan kasium. Apa yang disebut gingivitis
kehamilan adalah gangguan yang disebabkan oleh faktor lain, misalnya hygiene
yang buruk disekitar mulut.
10. Darah
Voleme darah bertambah, baik plasma maupun
eritrositnya, tetapi penambahan volume plasma disebabkan oleh hidremia lebih
menonjol hongga biasanya kadar Hb menurun. Batas fisiologis, Hb 10 gr%,
eriterisit 3,5 juta/mm3, leukosit 8000-10000/mm3.
11. Metabolisme
Berat badan wanita hamil akan naik sekitar
6,5-16,5 kg. Kebutuhan kalori meningkat selam kehamila dan
laktasi.
a. Metabolisme Air
-
Retensi air meningkat karena turunnya
osmolalitas plasma.
-
Penurunan tekanan osmotik koloid : oedema
pada akhir kehamilan.
b. Metabolisme Protein
-
Konsistensi albumin menurun filarinogen, IgG,
IgA dan IgM akan menurun, kemungkinan karena efek hemodilusi dan tekanan sistem
kekebalan tubuh.
c. Metabolisme Karbohidrat
-
Peningkatan somatomamotropin dan plasma
insulin menyebabkan sering haus, nafsu makan, sering kencing, kadang
glukosuria.
d. Basal Metabolisme Indirek (BMI)
-
Merupakan rumus matematis yang berkaitan
dengan lemak tubuh orang dewasa.
-
Rumus hanya cocok diterapkan pada usia 19-70
tahun, berstruktur tulang belakang normal, bukan atlet/binaraga serta bumil dan
menyusui.
-
Rumus : BB (kg)/kuadrat TB (m).
-
Nilai : kurang (<19.8) normal (19.8 –
26.1), lebih (>26,1 – 89.0), obesitas (> 29.0).
2.1.6
Pemeriksaan dan Pengawasan Ibu Hamil
Tujuan umum dari pemeriksaan adalah menyiapkan seoptimal mungkin
fisik dan mental ibu dan anak selama
dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga di dapatkan ibu dan anak
sehat.
Tujuan khusus adalah :
1. Mengenali dan menangani penyulit – penyulit yang mungkin di jumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.
2. Mengenali dan mengobati penyakit – penyakit yang mungkin di derita sedini
mungkin.
3. Menurunkan angka mortalitas ddan morbiditas ibu dan anak.
4. Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga
terencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
Perawatan Antenatal mencakup :
1. Pengawasan kehamilan untuk melihat apakah segalanya berlangsung normal.
2. Penyulitan atau pendidikan mengenai kehamilan.
3. Persiapan (baik fisik maupun psikologis) bagi persalinan.
4. Dukungan jika terdapat masalah-masalah sosial atau psikologis.
Jadwal pemeriksaan kehamilan
1. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya
terlambatnya 1 bulan.
2. Periksa ulang 1 x sebutkan sampai usia kehamilan 7 bulan.
3. Periksa ulang 2 x sebutkan sampai kehamilan 9 bulan.
4. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.
2.2
KEHAMILAN RESIKO TINGGI
2.3.1
Pengertian
1. Kehamilan
resiko tinggi adalah keadaan yang dapat mepengaruhi optimalisuri ibu maupun
janin pada kehamilan yang dihadapi.
(Manuaba,
2000:161)
2. Kehamilan
resiko tinggi adalah kehamilan dengan satu atau lebih faktor resiko, baik dari
pihak ibu maupun janinnya yang memberi dampak kurang menguntungkan baik bagi
ibu maupun janinnya, memiliki resiko kegawatan tetapi tidak darurat.
3. Kehamilan
resiko tinggi adalah suatu kehamilan yang memiliki resiko lebih besar dari
biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya) akan terjadinya penyakit atau kematian
sebelum maupun sesudah persalinan.
2.3.2
Skor Poedji Rochyati
|
Kelompok
Faktor Resiko
|
No.
|
Keadaan
Ibu Hamil
|
Skor
|
|
Skor awal ibu hamil
|
2
|
||
|
I
|
1.
|
Terlalu muda,
hamil I ≤ 16 tahun
|
4
|
|
2.
|
Terlalu tua,
hamil I ≥ 35 tahun
|
4
|
|
|
|
Terlalu lambat
hamil I, kawin ≥ 4 tahun
|
4
|
|
|
3.
|
Terlalu lama
hamil lagi (≥ 10 th)
|
4
|
|
|
4.
|
Terlalu cepat
hamil lagi (< 2 tahun)
|
4
|
|
|
5.
|
Terlalu banyak anak,
4/lebih
|
4
|
|
|
6.
|
Terlalu tua, umur ≥
35 th
|
4
|
|
|
7.
|
Terlalu pendek atau
≤ 145 cm
|
4
|
|
|
8.
|
Pernah gagal
kehamilan
|
4
|
|
|
9.
|
Pernah melahirkan
dengan :
|
4
|
|
|
|
a. Tarik tang/vakum
|
4
|
|
|
|
b. Uri dirogoh
|
4
|
|
|
|
c. Diberi infus/transfuse
|
4
|
|
|
10.
|
Pernah operasi
sesar
|
8
|
|
|
II
|
11.
|
Penyakit pada ibu
hamil :
|
|
|
|
a. Kurang
darah
|
4
|
|
|
|
b. Malaria
|
4
|
|
|
|
c. TBC paru
|
4
|
|
|
|
d. Payah
jantung
|
4
|
|
|
|
|
d. Kening
manis (Diabetes Mellitus)
|
4
|
|
|
e. Penyakit
menular seksual
|
4
|
|
|
12.
|
Bengkak pada
muka/tungkai dan tekanan darah tinggi
|
4
|
|
|
13.
|
Hamil kembar 2
atau lebih
|
4
|
|
|
14.
|
Hamil kembar air
(hydramnion)
|
4
|
|
|
15.
|
Bayi mati dalam
kandungan
|
4
|
|
|
16.
|
Kehamilan lebih
bulan
|
4
|
|
|
17.
|
Letak sungsang
|
8
|
|
|
18.
|
Letak lintang
|
8
|
|
|
III
|
19.
|
Perdarahan dalam
kehamilan ini
|
8
|
|
20.
|
Preeklamsia
berat/kejang-kejang
|
8
|
|
|
|
JUMLAH SKOR
|
8
|
2.4
EKLAMSI
2.4.1 Pengertian
1. Eklamsia
adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang tidak dapat
disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grandmal dan mungkin timbul sebelum,
selama atau setelah persalinan.
(Obstetri Williams, 2006:628)
2. Eklamsi
dalam bahasa yunani berarti ”halilintar”, karena serangan kejang-kejang timbul
tiba-tiba seperti petir.
(Rustam Mochtar, 1998. hal : 203)
3. Eklamsi
adalah bentuk pre eklampsi yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang
atau koma.
4. Eklamsi
adalah penyakit akut dengan kejang dan koma pada wanita hamil dan wanita dalam
nifas disertai dengan hypertensi oedema dan proteinuria.
(UNPAD,
2000:99)
Eklamsi adalah sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas
endotel. Proteinuria adalah penting preeklamsi, dan Chesley (1985) dengan tepat
menyimpulkan bahwa apabila tidak terdapat proteinuria, diagnosisnya dipertanyakan.Proteinuria
didefinisikan sebagai terdapatnya 300 mg atau lebih protein dalam urin 24 jam
atau 30 mg/dl (+ 1 pada dipstik) secara menetap pada sample acak urin. Derajat
proteinuria dapat berfluktuasi sangat luas dalam periode 24 jam, bahkan pada kasus
yang parah.
Nyeri epigasterium atau kuadrum kanan atas tampaknya merupakan
akibat nekrosis, iskemia, dan edema hepatoselular yang merengangkan kapsul
Glisson.Nyeri khas ini sering disertai oleh peningkatan enzim hati dalam serum,
dan biasanya adalah tanda untuk mengakhiri kehamilan.Nyeri menandai infark dan
perdarahan hati serta ruptur suatu hematom subkapsul yang sangat berbahaya.
Trombositipenia adalah cirri memburuknya preeklamsi, dan mungkin
disebabkan oleh aktivasi dan agregasi trombosit serta hemolisis mikroangiopati
yang dipicu oleh vasospasme hebat.Tanda-tanda hemolisis yang berat seperti
hemoglobinemia, hemoglobinuria, atau hiperbilurubenemia menunjukkan penyakit
yang parah.
Faktor lain yang menunjukkan keparahan hipertensi adalah disfungsi
jantung dengan edema paru serta pertumbuhan janin terhambat yang nyata.
Eklamsi adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang
bersifat grandmal dan mungkin timbul sebelum, selama atau setelah persalinan.. Namun, kejang yang timbul lebih dari 48 jam postpartum, terutama pada
nulipara, dapat dijumpai sampai 10 hari postpartum.
Diagnosis adanya hipertensi kronik diisyaratkan oleh :
1. Hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) sebelum hamil.
2. Hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) yang terdeteksi sebelum usia kehamilan
20 minggu (kecuali apabila terdapat penyakit troboblastik gestasional).
3. Hipertensi yang menetap lama setelah melahirkan.
2.4.2 Etiologi
Berdasarkan penelitian, disimpulkan bahwa
penyakit ini lebih sering terjadi pada kehamilan pertama, kehamilan kembar,
kehamilan air, dan kehamilan anggur. Makin tua umur
kehamilan, makin tinggi frekuensi penyakit.
2.4.3 Patologi
Pada preeklamsia yang berat dan eklamsia dijumpai perburukan patologis fungsi sejumlah organ dan
sistem, mungkin akibat vasospasme dan iskemia. Untuk mempermudah penjelasan,
efek-efek ini dipisahkan menjadi efek pada ibu dan janin; namun, kedua efek
merugikan ini sering terjadi bersamaan. Walaupun terdapat banyak kemungkinan
konsekuensi gangguan hipertensi akibat kehamilan, untuk memudahkan, efek-efek
tersebut dibahas berdasarkan analisis terhadap perubahan kardiovaskular,
hematologis, endokrin dan metabolik, serta aliran darah regional disertai
gangguan end-organ. Kausa utama gangguan janin adalah berkurangnya perfusi
utero plasenta.
- Perubahan Kardiovaskuler
Gangguan –gangguan fungsi kardiovaskuler yang
parah sering terjadi pada preeklamsia dan eklamsia. Berbagai gangguan tersebut
pada dasarnya berkaitan dengan
meningkatnya afterload jantung akibat hipertensi, prrload jantung secara nyata
dipegaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang
secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik atau kristaloid intravena,
dan aktivasi endotel disertai ekstravasasi ke dalam ruang ekstraselular,
terutama paru.
- Perubahan Hemodinamik
Perubahan kardiovaskular akibat preeklamsia
telah diteliti dengan menggunakan pemantauan hemodinamik invasif. Namun, bila
preeklamsia telah menjadi nyta secara klinis, studi-studi hemodinamik invasif
semacam itu kecil kemungkinan dapat memberi informasi yang bermanfaat mengenai
perjalanan penyakit pada awal kehamilan.
- Perubahan Hematologis
Kelainan hematologis terjadi pada sebagian,
tetapi jelas tidak semua wanita yang menderita gangguan hipertensi akibat
kehamilan. Kelainan tersebut antara lain trombositopenia, yang kadang-kadang
sangat parah sehingga dapat mengancam nyawa; kadar sebagian faktor pembekuan
dalam plasma mungkin menurun; dan eritrosit dapat mengalami trauma hebat
sehingga bentuknya aneh dan mengalami hemolisis cepat.
- Pembekuan
Perubahan tersamar yang mengarah ke koagulasi
intravaskuler, dan destruksi eritrosit (lebih jarang), sering dijumpai pada
preeklamsia dan terutama eklamsia.
- Trombositopenia
Trombositopenia yang nyata, yang
didefinisikan sebagai hitung trombosit kurang dari 100.000/ml, menunjukkan penyakit yang parah. Pada sebagian besar kasus, pelahiran
diindikasikan karena hitung trombosit terus menurun.
Penyebab trombositopenia kemungkinan besar
adalah aktivasi dan konsumsi trombosit pada saat yang sama dengan peningkatan
produksi trombosit. Trombopoietin, suatu sitokin yang meningkatkan proliferasi trombosit dari megakariosit, meningkatkan pada wanita
dengan preeklamsia dan trombositopenia (Frolich dkk., 1998).
Makna klinis trombositopenia, selain jelas
mengganggu pembekuan darah, adalah bahwa hal tesebut mencerminkan keparahan proses patologis.
Secara umum, semakin rendah hitung trombosit, semakin besar morbiditas dan
mortalitas ibu serta janin (Leduc dkk., 1992). Adanya peningkatan kadar enzim
hati pada gambaran klinis ini bahkan lebih merugikan. Weinstein (1982) menyebut
kombinasi hemolisis (H), peningkatan enzim hati (elevated liver enzymes, EL),
penurunan trombosit (low platelets, LP).
- Trombositopenia Neonatal.
Trombositopenia berat pada janin atau bayi
pada saat atau segera setelah lahir. Trombositopenia memang timbul kemudian
pada sebagian dari bayi ini setelah terjadi hipoksia, asidosis, dan sepsis.
Oleh karenanya, trombositopenia pada wanita dengan hipertensi bukan merupakan
indikasi janin untuk seksio sesarea.
- Hemolisis Fragmentasi.
Trombositopenia pada preeklamsia berat dan
eklamsia dapat disertai oleh destruksi eritrosit yang ditandai dengan
hemolisis, skizositosis, sferositosis, retikulositosis, hemoglobinuria, dan
terkadang hemoglobinemia (Pritchard dkk., 1945, 1976). Sanchez Ramos dkk.,
(1994a) melaporkan peningkatan fluiditas membran eritrosit pada wanita dengan
sindrom HELLP dan mempostulasikan bahwa perubahan-perubahan ini merupakan
predisposisi hemolisis. Grisaru dkk. (199&0 memperlihatkan bahwa perubahan
membran eritrosit mungkin mempermudah
terjadinya keadaan hiperkoagulasi.
- Faktor pembekuan lain.
Defisiensi berat setiap faktor pembekuan terlarut
sangat jarang pada preeklamsia berat-eklamsia kecuali terjadi proses lain yang
merupakan predisposisi koagulopati konsumtif, misalnya solusio plasenta atau
perdarahan hebat akibat infark hati.
- Perubahan Endokrin dan Metabolik
Perubahan endokrin. Selama kehamilan normal
kadar renin, angiotensin II, dan aldosteron dalam plasma meningkat. Penyakit
hipertensi akibat kehamilan menyebabkan kadar berbagai zat ini menurun
kekisaran tidak hamil normal.
- Perubahan Cairan dan Elektrolit
Umumnya, volume cairan ekstraselular, yang
bermanifestasi sebagai edema, pada wanita dengan preeklamsia berat-eklamsia
meningkat melebihi peningkatan normal yang lazim pada kehamilan. Edema tidak
selalu berarti prognosis buruk, sebaliknya tidak adanya edema tidak menjamin
prognosis yang baik.
Setelah kejang eklamtik, konsentrasi
bikarbonat menurun akibat asidosis asam laktat dan pengeluaran karbondioksida
kompensatorik dari paru
- Ginjal
Selama kehamilan normal, aliran darah ginjal
dan laju filtrasi glomerulus meningkat cukup besar. Proteinuria. Untuk memmastikan diagnosis
preeklamsia-eklamsia harus terdapat proteinuria. Namun, karena proteinuria
muncul belakangan, sebagian wanita mungkin sudah melahirkan sebelum gejala ini
dijumpai. Meyer dkk. (1994) menekankan- bahwa yang diukur adalah ekskresi urin
24 jam. Mereka mendapatkan bahwa proteinuria + 1 atau lebih dengan dipstik
memperkirakan minimal terdapat 300 mg protein per 24 jam pada 92 persen kasus.
Sebaliknya, proteinuria yang samar (trace) atau negatif memiliki nilai prediktif
negatif hanya 34 +3 atau +4 hanya bersifat prediktif positif untuk preeklamsia
berat pada 36 persen kasus.
Albuminuria merupakan istilah yang salah
untuk menjelaskan proteinuria pada preeklamsia. Seperti pada glomeruopati
lainnya, terjadi peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar protein
dengan berat molekul tinggi; maka, peningkatan ekskresi albumin juga disertai
oleh protein lain, misalnya hemoglobin, globulin, dan transferin. Biasanya
molekul-molekul protein besar ini tidak difiltrasi oleh glomerulus dan
kemunculan zat-zat ini didalam urin mengisyaratkan terjadinya proses
glomerulopati.
- Hepar
Pada preeklamsia berat, kadang-kadang terjadi
perubahan fungsi dan integritas hepar, termasuk perlambatan ekskresi
bromosulfoftalein dan peningkatan kadar aspartat amniotransferase serum (Combes
dan Adams, 1972). Hiperbilirubinemia yang parah jarang terjadi bahkan pada
preeklamsia berat (Pitchard dkk., 1976).
Nekrosis hemoragik periporta dibagian
periferlobulus hepar kemungkinan besar merupakan penyebab meningkatnya kadar
enzim hati dalam serum.
- Sindrom Hellp
Keterlibatan hepar pada peeklamsia-eklamsia
adalah hal yang srius dan sering disertai oleh tanda-tanda keterlibatan organ
lain, terutama ginjal dan otak, bersama dengan hemolisis dan trombositopenia. Keadaan
ini sering disebut sebagai sindrom HELLP-Hemolisis, peningkatan enzim hati
(Elevated liver enzymes), dan penurunan trombosit (Low Platelet).
- Otak
Manifestasi preeklamsia, dan terutama kejang
pada eklamsia, pada susunan saraf pusat telah lama diketahui. Secara khusus,
banyak perhatian ditujukan kepada gejala penglihatan. Penjelasan paling awal
tentang keterlibatan otak berasal dari pemeriksaan makroskopik dan histologis,
tetapi tekni-teknik modern noninvasif, misalnya pemeriksaan pencitraan dan Doppler,
telah menambah pemahaman baru tentang keterlibatan serebrovaskular.
- Edema Serebri
Manifestasi susunan saraf pusat edema serebri
yang luas merupakan hal yang mengkhawatirkan. Pada sebagian kasus, gambaran
utama adalah kesadaran berkabut dan kebingungan, dan gejala ini hilang timbul.
- Aliran Darah Otak
Wanita yang mengalami eklamsia seolah-olah
mengalami kehilangan transien autoregulasi vaskuler otaknya. Kesimpulan juga
didukung oleh bukti adanya daerah-daerah densitas rendah yang luas dan
dikonfirmasi oleh pencintraan CT scan dan MRI .
2.4.4 Gejala
2. Sakit kepala yang keras.
3. Penglihatan kabur.
4. Kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahului serangan kejang.
5. Tekanan darah > 140/90 mmHg.
6. Terjadi proteinuria.
7. Terjadinya penimbunan cairan dalam jaringan tubuh sehingga ada pembengkakan
pada tungkai dan kaki.
8. Serta kejang-kejang.
2.4.5 Komplikasi
Eklamsi
1. Sindrom Hellp
a. Hemolitis )pengeluaran sel darah merah).
b. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati).
c. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan
pembekuan darah).
2. Kejang
a. Lidah tergigit
b. Patah tulang
c. Gangguan pernapasan
d. Pendarahan otak
e. Terlepasnya uri dari rahim
Menurut
saat terjadinya eklamsi
1. Eklamsi atepartum adalah eklamsi yang terjadi sebelum persalinan.
2. Eklamsi intrapartum adalah eklamsi sewaktu persalinan.
3. Eklamsi post partum adalah eklamsi setelah persalinan.
Pada kehamilan preterm £ 34 minggu akan dilakukan terminasi pemberian
kostikosteroid seperti Dexametasone atau Betametasone untuk pematangan paru.
Obat-obat yang dapat diberikan :
1. Magnesium sulfat
2. Anti hipertensi
3. Kortikosteroid : Dexametasone atau Betametasone
Magnesium sulfat dapat diberikan menurut
Regim Prihant. Awalnya diberikan 4 gram secara IV selama 4-5 menit dan 10 mg
secara intramuskuler.
2.4.6 Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap
kehamilan dengan penyulit eklamsia adalah :
1. Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinnya.
2. Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
3. Pemulihan sempurna kesehatan ibu.
ü Penatalaksanaan Bidan
1. Melakukan Observasi TTV (TD,Nadi,Suhu,RR)
2. Pemberian infus dan O2 untuk memperbaiki keadaan umum ibu
3. Melakukan Rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai
ü
Penatalaksanaan Dirumah Sakit
1. Pemeriksaan terinci diikuti oleh pemantauan setiap hari untuk mencari
temuan-temuan klinis seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri
epigastrium, dan pertambahan berat yang pesat.
2. Berat badan saat masuk dan kemudian setiap hari.
3. Analisis untuk proteinuria saat masuk dan kemudian paling tidak setiap 2
hari.
4. Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk dengan ukuran manset yang
sesuai setiap 4 jam, kecuali antara tengah malam dan pagi hari.
5. Pengukuran kreatinin plasma atau serum, hematolrit, trombosit, dan enzim hati
dalam serum, dan frekuensi yang ditentukan oleh keparahan hipertensi.
6. Terminasi kehamilan
Terminasi Kehamilan
Pelahiran janin adalah penyembuhan bagi preeklamsi.
Nyeri kepala, gangguan penglihatan, atau nyeri epigastrium merupakan petunjuk
bahwa akan terjadi kejang, dan oliguria adalah tanda buruk lainnya. Terapi
serupa dengan yang akan dijelaskan kemudian untuk eklamsia. Tujuan utama adalah
mencegah kejang, perdarahan intrakranial dan kerusakan serius pada organ vital
lain, serta melahirkan bayi yang sehat.
Namun, apabila penundaan persalinan dengan
prematur, cenderung penundaan persalinan dengan harapan bahwa tambahan beberapa
minggu in utero akan menurunkan resiko kematian atau morbiditas serius pada
neonatus. Dilakukan penilaian kesejahteraan janin dan fungsi plasenta, terutama
apabila terdapat keengganan untuk melahirkan janin dengan alasan prematuritas.
Sebagian besar peneliti menganjurkan pemeriksaan berkala berbagai uji yang saat
ini digunakan untuk menilai kesejahteraan janin.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Eklamsi adalah terjadinya
kejang pada seorang wanita dengan preeklamsi yang dapat disebabkan oleh hal
lain. Kejang bersifat grand mal dan mungkin timbul sebelum selama atau
persalinan. Pada kehamilan preterm £ 34
minggu akan dilakukan terminasi pemberian kortikosteroid seperti dexametason
atau betametason untuk pematangan paru.
3.2 Saran
3.2.1 Bagi Petugas Kesehatan
-
Diharapkan dalam memberikan asuhan memegang
prinsip memenuhi kebutuhan pasien.
-
Diharapkan petugas mempunyai pengetahuan dan
kemampuan yang cukup untuk dapat melakukan tindakan secara komprehensif
-
Memberikan dukungan dan
motivasi serta bimbingan pada ibu mengenai proses persalinan.
3.2.2 Bagi keluarga
-
Selalu kooperatif dengan petugas dalam pemberian
pelayanan kesehatan
-
Untuk selalu memberikan dukungan kepada ibu agar
psikologisnya kuat.
DAFTAR PUSTAKA
ü Doegoes, M. E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Pedoman untuk
Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Jakarta : EGC.
ü Mochtar Rustam 1998. Sinopsisl Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC.
ü Manuaba Ida Bagus. 2000. Ilmu Kebidanan Penyakit Dalam dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
ü R. Gary
Cunningham et all. 2006. Obsterti Williams, ed 21- Vol. 2. Jakarta : EGC
ü Saifuddin, 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Hal : Jakarta : YBPSP.
ü Sarwono Prawirohardjo. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC.
ü UNPAD. 2000. Obstetri Patologi. Bandung : UNPAD.