BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Penyakit hipertensi merupakan penyebab signifikan
morbiditas dan mortalitas maternal dan janin atau neonatus. Penyakit hipertensi
dalam kehamilanmerupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kahamilan atau
timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas. Penyakit ini sering dijumpai dan masih
merupakan salah satu kematian ibu. Di U.S.A misalnya 1/3 dari kematian ibu
disebabkan penyakit ini. Laporan tiga tahunan mengenai kematian ibu di Inggris
pada tahun 1997-1999 ( Lewis & Drife 2001 ) mengidentifikasi bahwa gangguan
hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab tersering kedua kematian maternal
dengan 5,2 kematian per satu juta ibu yang menderita pre-eklamsi dan 2,4 per
satu juta ibu yang menderita eklamsi. Hipertensi merupakan penyakit medis yang
paling sering terjadi pada kehamilan, terjadi pada kira-kira 10% dari seluruh
kehamilan. Observasi yang cermat terhadap kondisi ini mengidentifikasi bahwa
insiden penyakit hipertensi bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan ras.
1.2
RUMUSAN MASALAH
a. Apa definisi dan klasifikasi hipertensi dalam kehamilan?
b. Bagaimana etiologi hipertensi dalam kehamilan?
c. Bagaimana perubahan patologis hipertensi dalam kehamilan?
d. Bagaimana peran bidan terhadap hipertensi dalam kehamilan?
e. Bagaimana asuhan dan penatalaksanaan hipertensi dalam
kehamilan?
1.3 TUJUAN
a. Untuk
mengetahui definisi dan klasifikasi hipertensi dalm
kehamilan
b. Untuk
mengetahui etiologi hipertensi dalam kehamilan
c. Untuk
mengetahui perubahan patologis hipertensi dalam kehamilan
d. Untuk
mengetahui peran bidan terhadap hipertensi dalam
kehamilan
e. Untuk
mengetahui asuhan dan penatalaksanaan hipertensi dalam
kehamilan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI DAN KLASIFIKASI
DEFINISI
Hipertensi
dalam Kehamilan adalah penyebab kematian utama ketiga pada ibu hamil setelah perdarahan dan infeksi.
a.
Hipertensi kronis : hipertensi yang diketahui terjadi sebelum kehamilan
atau peningkatan tekanan darah >
140/90 mmhg sebelum usia gestasi 20 minggu, dan berlanjut hingga 6 minggu
setelah melahirkan.
b.
Hipertensi gestasional : hopertensi yang terjadi tanpa tanda lain
pre-eklamsi. Didiagnosis jika setalah beristirahat, tekanan darah ibu meningkat >140/90 mmhg pada sedikitnya dua kali
pemeriksaan,tidak lebih dari satu minggu setelah minggu ke-20 kehamilan pada
wanita yang diketahui normotensif. Hipertensi yang didiagnosis untuk pertama
kalinya pada kehamilan dan tidak membaik pada masa pascapartum juga
diklasifikasikan hipertensi gestasional.
c.
Pre-eklamsi : merupakan hipertensi yang didiagnosis
berdasarkan proteinuria,jika proteinuria >1+ pada pemeriksaan dipstik atau
>0,3 g/L protein dalam spesimen urine tangkapan bersih yang diperiksa secara
acak atau eksresi 0,3 g protein / 24 jam. Jika tidak terdapat proteinuria,
dicurigai preeklamsia jika hipertensi disertai dengan gejala seperti sakit
kepala, penglihatan kabur,nyeri abdomen atau epigastrik, atau perubahan
biokimia, terutama jumlah trombosit yang rendah dan kadar enzim hati yang tidak
normal (mis. Alanin aminotransferase (ALT) aspartat aminotransferase (AST), dan
gamma glutamil transpeptidase (GGT) ). Tanda-tanda dan gejala tersebut
yang disertai tekanan darah sisitolik
>160 mmhg atau diastolik > 110 mmhg dan proteinuria 2+ atau 3+ dengan
dipstik menunjukkan bentuk penyakit yang lebih berat.
d.
Eklamsia : didefinisikan sebagai awitan baru konvulsi
selama kehamilan atau pascapartum,yang tidak berkaitan dengan kondisi patologis
serebral yang terjadi pada ibu yang menderita pre-eklamsi.
e.
Pre-eklamsi yang terjadi pada hipertensi kronis : hal ini
dapat terjadi pada ibu yang mengalami hipertensi sejak sebelum kehamilan
(<20 minggu) yang menderita :
·
Proteinuria baru (>0,3 g/24 jam)
·
Peningkatan tiba-tiba hipertensi yang sudah ada
sebelumnya dan proteinuria
·
Trombositopenia
·
Enzim hati abnormal
KLASIFIKASI
§
Secara internasional kejadian hipertensi terjadi dalam
kehamilan dapat diperkirakan sebagai berikut :
a.
Primigavida sekitar 7-12 %. Makin meningkat pada :
·
Hamil ganda
·
Hidramnion atau hamil dengan DM
·
Kehamilan mola hidatidosa
b.
Pada kehamilan multigravida 5 ½ - 8%
§
Pembagian HDK yang dianut oleh FIGO adalah sebagai berikut :
a.
Hipertensi dalam kehamilan sebagai komplikasi kehamilan (pre-eklamsia
ringan dan berat,eklamsia)
b.
Hipertensi dalam kehamilan yang terjadi pada hipertensi kronis atau
preeklamsi/eklamsia
c.
Hipertensi sementara (coincidental hypertention)
Nama lain yang dipakai adalah gestosis EHP
(edema,hipertensi,proteinuria). Gestation berarti kehamilan, osis berarti
abnormal atau gangguan. Gestosis berarti gangguan kehamilan dengan gejala
edema,hipertensi dan proteinuria. Gestosis EHP dapat terjadi pada antepartum,intrapartum
dan pascapartum. Berdasarkan gestosis EHP didapatkan gambaran klinis sebagai
berikut :
a.
Monosimtom gestosis EHP, hanya dijumpai salah satu dari gejala
edema,hipertensi atau proteinuria
b.
Multisimtom gestosis EHP, dijumpai lebih dari satu gejala klinis
c.
Gambaran klinis preeklamsia ringan:
Ø
Tekanan darah absolut 140/90 mmhg atau kenaikan sistolik 30 mmhg dan
diastolik 15 mmhg
Ø
Edema ringan dengan peningkatan BB 1kg/minggu
Ø
Proteinuria diatas 0,3g/ 24 jam atau positif 1-2
d.
Gambaran klinis preeklamsia berat, bila salah satu dari gejala berikut
dijumpai :
Ø
Tekanan darah 160/110 mmhg
Ø
Edema umum dan paru disertai sesak dan sianosis
Ø
Proteinuria diatas 5 g/24 jam atau plus 4-5
Ø
Oliguria, urin kurang dari 500cc / 24 jam
e.
Eklamsia iminen adalah gejala preeklamsia berat yang disertai gejala
obyektif (hiperfleksi – eksitasi motorik, sianosis, dan sesak nafas) dan gejala
subyektif (gangguan visus, nyeri kepala nyeri epigastrium).
f.
Eklamsia adalah adanya gejala preeklamsia berat disertai dengan kejang
dan diikuti dengan koma.
2.2 ETIOLOGI
Teori yang dianggap dapat menjelaskan etiologi dan patofisiologi PE harus
dapat menjelaskan kenyataan bahwa HDK seringkali terjadi pada :
- Mereka yang terpapar pada villi chorialis untuk pertama kalinya ( pada
nulipara )
- Mereka yang terpapar dengan villi chorialis yang berlimpah ( pada
kehamilan kembar atau mola )
- Mereka yang sudah menderita penyakit vaskular sebelum kehamilan.
- Penderita dengan predisposisi genetik Hipertensi .
Menurut Sibai
(2003), faktor-faktor yang berpotensi sebagai etiologi :
- Invasi trofoblastik abnormal kedalam vasa uterina.
- Intoleransi imonologi antara maternal dengan jaringan feto-maternal .
- Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau inflamasi
selama kehamilan.
- Defisiensi bahan makanan tertentu ( nutrisi ).
- Pengaruh genetik.
1. INVASI TROFOBLAST
ABNORMAL

Implantasi plasenta yang normal
Terlihat proliferasi trofoblas ekstravillous membentuk kolom sel didekat “anchoring villous”
Trofoblas ekstravilous melakukan invasi desidua dan kearah bawah kedalam arteri spiralis.
Akibatnya, terjadi penggantian endotel dan dinding otot dari pembuluh darah serta pembesaran dari pembuluh darah
Pada proses implantasi normal : arteri spiralis mengalami “remodeling” secara ekstensif akibat invasi oleh trofoblast endovaskular (gambar atas)
Pada PE : invasi trofoblastik berlangsung secara tak sempurna. Pembuluh darah desidua ( bukan pembuluh darah miometrium ) terbungkus dengan trofoblas endovaskular.
Besarnya gangguan invasi trofoblas pada arteri spiralis berhubungan dengan beratnya HT yang terjadi.
Perubahan dini pada PE :

Implantasi plasenta yang normal
Terlihat proliferasi trofoblas ekstravillous membentuk kolom sel didekat “anchoring villous”
Trofoblas ekstravilous melakukan invasi desidua dan kearah bawah kedalam arteri spiralis.
Akibatnya, terjadi penggantian endotel dan dinding otot dari pembuluh darah serta pembesaran dari pembuluh darah
Pada proses implantasi normal : arteri spiralis mengalami “remodeling” secara ekstensif akibat invasi oleh trofoblast endovaskular (gambar atas)
Pada PE : invasi trofoblastik berlangsung secara tak sempurna. Pembuluh darah desidua ( bukan pembuluh darah miometrium ) terbungkus dengan trofoblas endovaskular.
Besarnya gangguan invasi trofoblas pada arteri spiralis berhubungan dengan beratnya HT yang terjadi.
Perubahan dini pada PE :
·
Kerusakan
endothelium.
·
Insudasi
bahan dalam plasma kedalam dinding pembuluh darah.
·
Proliferasi
sel miointima dan nekrosis bagian medial.
Terdapat akumulasi lipid pada sel miointima dan makrofag, sel yang
mengandung lipid tersebut disebut artherosis (gambar bawah)
![clip_image002[6]](file:///C:\Users\sherly\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg)
![clip_image002[8]](file:///C:\Users\sherly\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image004.jpg)
![clip_image002[6]](file:///C:\Users\sherly\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image003.jpg)
![clip_image002[8]](file:///C:\Users\sherly\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image004.jpg)
Artherosis
dalam pembuluh darah
Gambar bawah
adalah gambar skematik dari struktur artherosis
Obstruksi lumen arteri spiralis akibat artherosis menyebabkan terganggunya aliran darah.
Redman dan Sargent (2003) : gangguan perfusi plasenta akibat artherosis arteri spiralis adalah awal kejadian sindroma PE.
2. FAKTOR IMUNOLOGI
Terdapat sejumlah bukti yang menyatakan bahwa PE
adalah penyakit dengan mediasi imunologi. Resiko PE meningkat pada keadaan
dimana pembentukan “blocking antibody” terhadap “placental
site” terganggu.
Dekker dan Sibai (1998) meneliti peranan maladaptasi imunologis dalam patofisiologi PE. Dimulai sejak trimester kedua, pasien yang akan menderita PE mempunyai helper T cell (Th1) yang rendah dibandingkan mereka yang tidak akan menderita PE.
Ketidak seimbangan Th1/Th2 ( Th2 yang lebih dominan) tersebut dipengaruhi oleh adenosin.
Yoneyama dkk (2002) kadar adenosin pada penderita PE lebih besar dibandingkan yang normotensif.
Helper cell T lympocyte menghasilkan cytokine spesifik yang memudahkan implantasi dan disfungsi dari helper cell lymphocyte dan keadaan ini akan menyebabkan terjadinya PE.
Pada penderita dengan antibodi anticardiolipin, lebih sering terjadi kelainan plasenta dan PE.
Dekker dan Sibai (1998) meneliti peranan maladaptasi imunologis dalam patofisiologi PE. Dimulai sejak trimester kedua, pasien yang akan menderita PE mempunyai helper T cell (Th1) yang rendah dibandingkan mereka yang tidak akan menderita PE.
Ketidak seimbangan Th1/Th2 ( Th2 yang lebih dominan) tersebut dipengaruhi oleh adenosin.
Yoneyama dkk (2002) kadar adenosin pada penderita PE lebih besar dibandingkan yang normotensif.
Helper cell T lympocyte menghasilkan cytokine spesifik yang memudahkan implantasi dan disfungsi dari helper cell lymphocyte dan keadaan ini akan menyebabkan terjadinya PE.
Pada penderita dengan antibodi anticardiolipin, lebih sering terjadi kelainan plasenta dan PE.
3. VASKULOPATI dan INFLAMASI
Melalui
berbagai macam cara, perubahan inflamasi merupakan kelanjutan dari perubahan
yang terjadi plasenta. Sebagai respon terhadap faktor plasenta yang dilepaskan
akibat adanya reaksi iskemik terjadi sebuah rangkaian proses seperti yang
terlihat pada gambar skematik dibawah.

Pada desidua terdapat banyak sel yang bila diaktivasi akan mengeluarkan bahan – bahan tertentu yang dapat merusak sel endotel. Disfungsi sel endotel berhubungan dengan PE melalui proses adaptasi inflamasi intravaskular.
PE dianggap sebagai keadaan ekstrem dari aktivasi leukosit dalam sirkulasi maternal.
Manten dkk (2005) : Cytokine ( tumor necrosis factor α ) dan interleukin berperan sebagai stressor oksidatif yang berkaitan dengan PE.
Stresor oksidatif memiliki karakter bagi spesies tertentu dan adanya radikal bebas penting bagi pembentukan peroksidase lipid yang dapat berlipat ganda dengan sendirinya (“self propagation” ).
Bahan yang bersifat radikal bebas tersebut mempunyai sifat :

Pada desidua terdapat banyak sel yang bila diaktivasi akan mengeluarkan bahan – bahan tertentu yang dapat merusak sel endotel. Disfungsi sel endotel berhubungan dengan PE melalui proses adaptasi inflamasi intravaskular.
PE dianggap sebagai keadaan ekstrem dari aktivasi leukosit dalam sirkulasi maternal.
Manten dkk (2005) : Cytokine ( tumor necrosis factor α ) dan interleukin berperan sebagai stressor oksidatif yang berkaitan dengan PE.
Stresor oksidatif memiliki karakter bagi spesies tertentu dan adanya radikal bebas penting bagi pembentukan peroksidase lipid yang dapat berlipat ganda dengan sendirinya (“self propagation” ).
Bahan yang bersifat radikal bebas tersebut mempunyai sifat :
- Mampu mencederai sel endothel pembuluh darah.
- Modikasi produksi nitric oxide.
- Mengganggu keseimbangan prostaglandin.
Pengetahuan
mengenai peran stresor oksidatif dalam kejadian PE meningkatkan perhatian pada
keuntungan pemberian antioksidan dalam pencegahan PE .
Antioksidan penting antara lain : Vitamin E atau α-tocopherol, Vitamin C dan Vitamin A β-carotene
Antioksidan penting antara lain : Vitamin E atau α-tocopherol, Vitamin C dan Vitamin A β-carotene
4. FAKTOR NUTRISI
Berbagai faktor
defiensi nutrisi diperkirakan berperan sebagai penyebab Eklampsia.
Banyak saran yang diberikan untuk menghindarkan hipertensi misalnya dengan menghindari konsumsi daging berlebihan, protein, purine, lemak, hidangan siap saji (snack), dan produk-produk makanan instan lain.
John dkk (2002) : diet buah dan sayur banyak mengandung aktivitas non-oksidan yang dapat menurunkan tekanan darah.
Zhang dkk (2002) : kejadian PE pada pasien dengan asupan vitamin C harian kurang dari 85 mg dapat meningkat menjadi 2 kali lipat.
Obesitas adalah faktor resiko yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya PE. Obesitas pada ibu tidak hamil dapat menyebabkan aktivasi endotel dan respon inflamasi sistemik yang berhubungan dengan arterosklerosis.
Kadar C-reactive protein (“inlamatory marker”) meningkat pada obesitas yang seringkali berkaitan dengan PE.
Banyak saran yang diberikan untuk menghindarkan hipertensi misalnya dengan menghindari konsumsi daging berlebihan, protein, purine, lemak, hidangan siap saji (snack), dan produk-produk makanan instan lain.
John dkk (2002) : diet buah dan sayur banyak mengandung aktivitas non-oksidan yang dapat menurunkan tekanan darah.
Zhang dkk (2002) : kejadian PE pada pasien dengan asupan vitamin C harian kurang dari 85 mg dapat meningkat menjadi 2 kali lipat.
Obesitas adalah faktor resiko yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya PE. Obesitas pada ibu tidak hamil dapat menyebabkan aktivasi endotel dan respon inflamasi sistemik yang berhubungan dengan arterosklerosis.
Kadar C-reactive protein (“inlamatory marker”) meningkat pada obesitas yang seringkali berkaitan dengan PE.
5. FAKTOR GENETIK
Ness Dkk (2003)
: predisposisi hipertensi secara herediter sangat berkait dengan kejadian PE
dan E.
Chesley dan Cooper (1986) : menyimpulkan bahwa PE dan E menurun diantara saudara sekandung perempuan, anak perempuan, cucu perempuan.
Chesley dan Cooper (1986) : menyimpulkan bahwa PE dan E menurun diantara saudara sekandung perempuan, anak perempuan, cucu perempuan.
2.3 GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis
dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.
Hipertensi. Kenaikan tekanan sistolik dan diastolik 30 mmhg atau 15
mmhg. Tekanan darah absolute 140/90 atau 160/110 mmhg yang diambil selang 6 jam
dalam keadaan istirahat.
2.
Edema, merupakan timbunan cairan tubuh yang tampak atai tidak tampak.
Perhitungan kenaikan BB melebihi ¾ -1 kg/ minggu dianggap patologis. Edema
dijumpai di tibia, wajah atau tangan bahkan seluruh tubuh (anasarka)
3.
Proteinuria. Proteinuria menunjukkan komplikasi lanjut HDK dengan
kerusakan ginjal sehingga beberapa bentuk protein lolos dalam urin. Protein
dalam urin normalnya tidak lebih dari 0,3 g/ 24 jam. Proteinuria menunjukan
komplikasi HDK lanjut sehingga memerlukan perhatian khusus.
Kejang. Kejang (Konvulsi) menunjukan kelanjutan komplikasi menjadi
eklamsia yang menyebabkan terjadi AKI tinggi dan dapat diikuti AKP yang tinggi
pula. Kejang menunjukan telah terjadi kemungkinan perdarahan nekrosis dalam
edema.
4.
Koma. Kelanjutan kejang pada otak dapat diikuti koma sebagai manifestasi
dari cedera serebrofaskular (stroke) dengan menimbulkan perdarahan nekrosis
sehingga terjadi koma.
PATOGENESIS
Perubahan
utama yang terjadi pada HDK adalah VASOSPASME
dan AKTIVASI SEL ENDOTHELIUM
1. VASOSPASME
Konsep vasospame didasarkan pada
pengamatan langsung terhadap pembuluh darah kecil pada kuku, fundus oculi dan
konjuntiva.
Konstriksi vaskular menyebabkan peningkatan tahanan perifer dan TD. Pada saat yang sama, kerusakan sel endotel menyebabkan kebocoran interstitisial yang meliputi bahan dalam darah a.l trombosit, fibrinogen dan deposit subendotelial lain.
Berdasarkan pemeriksaan USG, terlihat adanya perubahan tahanan arterial pada penderita PE. Penurunan aliran darah akibat gangguan distribusi, iskemia dan perdarahan jaringan menyebabkan terjadinya serangkaian gejala PE
Fischer dkk (2000) : vasospasme pada penderita PE jauh lebih berat dibandingkan dengan yang terjadi pada pasien dengan sindroma HELLP.
Konstriksi vaskular menyebabkan peningkatan tahanan perifer dan TD. Pada saat yang sama, kerusakan sel endotel menyebabkan kebocoran interstitisial yang meliputi bahan dalam darah a.l trombosit, fibrinogen dan deposit subendotelial lain.
Berdasarkan pemeriksaan USG, terlihat adanya perubahan tahanan arterial pada penderita PE. Penurunan aliran darah akibat gangguan distribusi, iskemia dan perdarahan jaringan menyebabkan terjadinya serangkaian gejala PE
Fischer dkk (2000) : vasospasme pada penderita PE jauh lebih berat dibandingkan dengan yang terjadi pada pasien dengan sindroma HELLP.
2. AKTIVASI SEL ENDOTEL
Pada gambar diagram faktor plasenta
yang tak dapat di identifikasi dengan jelas masuk kedalam sirkulasi ibu dan
merangsang aktivasi dan disfungsi sel endotel. Sindroma klinis PE adalah
manifestasi umum dari terjadinya perubahan sel endotel tersebut.
Endotel yang utuh memiliki sifat antikogulan dan dapat menurunkan respon otot polos terhadap agonis melalui pengeluaran nitric oxide. Sedangkan kerusakan atau aktivasi sel endotel akan menyebabkan keluarnya bahan-bahan yang merangsang koagulasi dan meningkatkan sensitivitas terhadap vasopresor.
Perubahan-perubahan lain sebagai akibat proses aktivasi endotel adalah:
Endotel yang utuh memiliki sifat antikogulan dan dapat menurunkan respon otot polos terhadap agonis melalui pengeluaran nitric oxide. Sedangkan kerusakan atau aktivasi sel endotel akan menyebabkan keluarnya bahan-bahan yang merangsang koagulasi dan meningkatkan sensitivitas terhadap vasopresor.
Perubahan-perubahan lain sebagai akibat proses aktivasi endotel adalah:
- Perubahanan
khas pada morfologi endotel kapiler glomerulus.
- Peningkatan permeabilitas
kapiler.
- Peningkatan
kadar bahan-bahan yang terkait dengan aktivasi tersebut.
Peningkatan repon terhadap bahan “pressor”
Dalam keadaan normal, wanita hamil
refrakter terhadap pemberian vasopressor.
Pada awal kejadian PE, terdapat peningkatan reaktivitas vaskular terhadap pemberian nor-epinephrine dan angisotensin II. Prostaglandin
Pada awal kejadian PE, terdapat peningkatan reaktivitas vaskular terhadap pemberian nor-epinephrine dan angisotensin II. Prostaglandin
Beberapa prostanoid berperan penting
dalam patofisiologi sindroma PE. Secara spesifik, respon terhadap pressor yang
menurun pada kehamilan normal adalah berupa penurunan respon vaskular yang
terjadi melalui sintesa prostaglandin endotelial vaskular.
Pada penderita PE, produksi prostacyclin endotelial [PGI2] lebih rendah dibandingkan kehamilan normal ; tetapi sekresi thromboxane A2 dari trombosit meningkat. Perbandingan antara PGI2 : TXA2 yang menurun tersebut akan meningkatkan sensitivitas terhadap angiostension II sehingga terjadi vasokonstriksi.
Pada penderita PE, produksi prostacyclin endotelial [PGI2] lebih rendah dibandingkan kehamilan normal ; tetapi sekresi thromboxane A2 dari trombosit meningkat. Perbandingan antara PGI2 : TXA2 yang menurun tersebut akan meningkatkan sensitivitas terhadap angiostension II sehingga terjadi vasokonstriksi.
Nitric oxide
Vasodilator sangat kuat ini dibentuk
dari L-arginine oleh sel endotel. Bila nitric oxide ini diambil maka timbul
gejala-gejala yang menyerupai PE .
Pencegahan sintesa nitric oxide akan menyebabkan :
Pencegahan sintesa nitric oxide akan menyebabkan :
- Peningkatan
nilai MAP-mean arterial pressure.
- Penurunan
frekuensi denyut jantung.
- Kepekaan
terhadap vasopresor meningkat.
Pada PE, terjadi penurunan synthase
nitric oxide endotel sehingga permeabilitas sel meningkat.
Kenaikan kadar Nitric Oxide dalam serum pada penderita PE tersebut adalah sebuah akibat bukan sebuah sebab.
Kenaikan kadar Nitric Oxide dalam serum pada penderita PE tersebut adalah sebuah akibat bukan sebuah sebab.
Endothelin
Endothelin adalah 21–amino acid
peptide yang merupakan vasokonstriktor kuat, dan endothelin-1 (ET-1) adalah
isoform primer yang dihasilkan oleh endotel manusia.
Kadar endothelin dalam plasma wanita hamil normal memang meningkat, tetapi pada penderita PE kadar endothelin jauh lebih meningkat.
Kadar endothelin dalam plasma wanita hamil normal memang meningkat, tetapi pada penderita PE kadar endothelin jauh lebih meningkat.
Pemberian MgSO4 pada penderita PE
terbukti menurunkan kadar ET-1.
2.3 PATOFISIOLOGI
1. SISTEM KARDIOVASKULAR
Gangguan fungsi kardiovaskular yang normal pada PE dan E Peningkatan after-load jantung akibat HT.
Gangguan fungsi kardiovaskular yang normal pada PE dan E Peningkatan after-load jantung akibat HT.
- Gangguan pre-load jantung akibat akibat
terganggunya proses hipervolemia dalam kehamilan.
- Aktivasi endotelial dengan
akibat ekstravasasi kedalam ruang ekstraseluler terutama kedalam paru.
Perubahan hemodinamika
Perubahan kardiovaskular pada HDK tergantung sejumlah faktor :
Perubahan kardiovaskular pada HDK tergantung sejumlah faktor :
- Derajat HT
- Latar belakang penyakit kronis.
- Apakah telah terjadi PE.
- Saat kapan pemeriksaan
dikerjakan.
Pada
PE terjadi penurunan curah jantung dan kenaikan tahanan perifer.
Pada Hipertensi Gestasional, curah jantung tetap tinggi.
Pemberian cairan yang berlebihan pada penderita PE Berat akan menyebabkan tekanan pengisian jantung kiri ( “ventricular filling pressure” ) akan sangat meningkat dan meningkatkan curah jantung yang normal ke tingkatan diatas normal.
Volume Darah
Pada Eklampsia terjadi peristiwa hemokonsentrasi ; hipervolemia yang lazim dalam kehamilan normal tidak terjadi atau sangat minimal sehingga penderita eklampsia disebut sebagai pasien yang berada dalam keadaan “normotensive shock”.
Hemokonsentrasi pada PE dan E terjadi akibat adanya :
Pada Hipertensi Gestasional, curah jantung tetap tinggi.
Pemberian cairan yang berlebihan pada penderita PE Berat akan menyebabkan tekanan pengisian jantung kiri ( “ventricular filling pressure” ) akan sangat meningkat dan meningkatkan curah jantung yang normal ke tingkatan diatas normal.
Volume Darah
Pada Eklampsia terjadi peristiwa hemokonsentrasi ; hipervolemia yang lazim dalam kehamilan normal tidak terjadi atau sangat minimal sehingga penderita eklampsia disebut sebagai pasien yang berada dalam keadaan “normotensive shock”.
Hemokonsentrasi pada PE dan E terjadi akibat adanya :
- Vaskonstriksi generalisata.
- Disfungsi endotel dengan
meningkatnya permeabilitas vaskular.
Pada
PE tergantung pada beratnya penyakit tidak selalu terjadi hemokonsentrasi.
Pada penderita HG umumnya memiliki volume darah yang normal.
Penurunan kadar hematokrit pada penderita dengan hemokosentrasi hebat merupakan pertanda perbaikan keadaan.
Bila tidak terjadi perdarahan, ruang intravaskular penderita PE dan E biasanya tidak terlalu kosong. Terjadinya vasospasme dan kebocoran plasma endothel menyebabkan ruang vaskular tetap terisi. Perubahan ini menetap sampai beberapa saat pasca persalinan bersamaan dengan perbaikan endotel. Vasodilatasi dan peningkatan volume darah menyebabkan penurunan hematokrit.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penderita PE dan E sangat peka terhadap:
Pada penderita HG umumnya memiliki volume darah yang normal.
Penurunan kadar hematokrit pada penderita dengan hemokosentrasi hebat merupakan pertanda perbaikan keadaan.
Bila tidak terjadi perdarahan, ruang intravaskular penderita PE dan E biasanya tidak terlalu kosong. Terjadinya vasospasme dan kebocoran plasma endothel menyebabkan ruang vaskular tetap terisi. Perubahan ini menetap sampai beberapa saat pasca persalinan bersamaan dengan perbaikan endotel. Vasodilatasi dan peningkatan volume darah menyebabkan penurunan hematokrit.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa penderita PE dan E sangat peka terhadap:
- Pemberian
cairan dalam upaya untuk mengembalikan volume darah ke tingkatan sebelum
kehamilan.
- Perdarahan
selama persalinan.
2. DARAH dan PEMBEKUAN DARAH
- Trombositopenia yang terjadi
dapat mengancam jiwa penderita. Trombositopenia terjadi oleh karena :
- Aktivasi
platelet
- Agregasi
platelet
- Konsumsi
meningkat
- Trombitopenia hebat (bila
<>
SINDROMA HELLP
Arti klinik trombositopenia selain gangguan koagulasi adalah juga menggambarkan derajat proses patologi yang terjadi.
Pada umumnya semakin rendah trombosit semakin tinggi morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.
Pritchard dkk (1976) : mengharapkan adanya perhatian terhadap kejadian trombositopenia pada penderita PE yang disertai dengan sejumlah gejala (sindroma HELLP).
Sindroma HELLP:
Arti klinik trombositopenia selain gangguan koagulasi adalah juga menggambarkan derajat proses patologi yang terjadi.
Pada umumnya semakin rendah trombosit semakin tinggi morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.
Pritchard dkk (1976) : mengharapkan adanya perhatian terhadap kejadian trombositopenia pada penderita PE yang disertai dengan sejumlah gejala (sindroma HELLP).
Sindroma HELLP:
- Hemolysis
- Elevated
liver enzyme (kenaikan enzym hepar = transaminase )
- Low
Platelets
PE
Berat sering disertai dengan hemolisis yang terlihat dari kenaikan kadar serum
LDH - lactate-dehydrogenase dan perubahan gambaran dari darah perifer (schizocytosis,
spherocytosis dan reticulocytosis)
Hemolisis terjadi akibat hemolisis mikrosangiopatik yang diakibatkan oleh kerusakan endotel yang disertai dengan deposisi trombosit dan fibrin.
3. VOLUME HOMEOSTASIS
Perubahan endokrin
Hemolisis terjadi akibat hemolisis mikrosangiopatik yang diakibatkan oleh kerusakan endotel yang disertai dengan deposisi trombosit dan fibrin.
3. VOLUME HOMEOSTASIS
Perubahan endokrin
Kadar
renin , angiostensin II dan aldosteron dalam kehamilan normal meningkat.
Pada PE kadar bahan tersebut sama dengan kadar wanita yang tidak hamil.
Alibat retensi natrium dan atau HT, sekresi renin oleh ginjal menurun. Renin berperan sebagai katalisator dalam proses konversi angiostensin menjadi angiostensin I dan perubahan angiostensin I menjadi angiostensi II dengan katalisator ACE – angiostensin converting enzyme.
Pada PE kadar bahan tersebut sama dengan kadar wanita yang tidak hamil.
Alibat retensi natrium dan atau HT, sekresi renin oleh ginjal menurun. Renin berperan sebagai katalisator dalam proses konversi angiostensin menjadi angiostensin I dan perubahan angiostensin I menjadi angiostensi II dengan katalisator ACE – angiostensin converting enzyme.
Perubahan cairan dan elektrolit
Manifestasi
peningkatan volume cairan ekstraseluler adalah edema. Pada penderita PEBerat
biasanya lebih menonjol dibandingkan kehamilan normal.
Retensi cairan terjadi akibat adanya cedera pada endotel.
Selain edema generalisata dan proteinuria, penderita juga mengalami penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan gangguan keseimbangan proses filtrasi.
Retensi cairan terjadi akibat adanya cedera pada endotel.
Selain edema generalisata dan proteinuria, penderita juga mengalami penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan gangguan keseimbangan proses filtrasi.
4. GINJAL
Selama kehamilan normal, terjadi peningkatan GFR – glomerular filtration rate dan RBF – renal blood flow. Pada PE terjadi perubahan anatomi dan patofisiologi, sehingga terjadi penurunan perfusi renal dan filtrasi glomerulos.. PE berkaitan dengan penurunan produksi urine dan eksresi kalsium akibat peningkatan resorbsi tubuler. Pemberian Dopamine i.v pada penderita PE dapat meningkatkan produksi urine. Pemberian cairan i.v pada penderita PE dengan oliguria tidak perlu dikerjakan.
Proteinuria
Terjadinya proteinuria bersifat lambat.
Pemeriksaan kuantitatif dengan dipstick tidak akurat dan memerlukan pemeriksaan selama 24 jam.
Albuminuria adalah istilah untuk menggambarkan proteinuria pada PE yang salah oleh karena sebagaimana pada keadaan glomerulopati lain terjadi peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar protein ber-BM tinggi sehingga albuminuria sering disertai dengan keluarnya hemoglobin, globulin dan transferin.
Perubahan anatomi pada ginjal
Ukuran glomerulos membesar 20%. Terjadi glomerular capillary endotheliosis. Gagal ginjal akibat nekrosis tubuler akut sering terjadi dengan gejala oliguria sampai anuria ( peningkatan kadar serum creatinine 1 mg/dL ).
Selama kehamilan normal, terjadi peningkatan GFR – glomerular filtration rate dan RBF – renal blood flow. Pada PE terjadi perubahan anatomi dan patofisiologi, sehingga terjadi penurunan perfusi renal dan filtrasi glomerulos.. PE berkaitan dengan penurunan produksi urine dan eksresi kalsium akibat peningkatan resorbsi tubuler. Pemberian Dopamine i.v pada penderita PE dapat meningkatkan produksi urine. Pemberian cairan i.v pada penderita PE dengan oliguria tidak perlu dikerjakan.
Proteinuria
Terjadinya proteinuria bersifat lambat.
Pemeriksaan kuantitatif dengan dipstick tidak akurat dan memerlukan pemeriksaan selama 24 jam.
Albuminuria adalah istilah untuk menggambarkan proteinuria pada PE yang salah oleh karena sebagaimana pada keadaan glomerulopati lain terjadi peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar protein ber-BM tinggi sehingga albuminuria sering disertai dengan keluarnya hemoglobin, globulin dan transferin.
Perubahan anatomi pada ginjal
Ukuran glomerulos membesar 20%. Terjadi glomerular capillary endotheliosis. Gagal ginjal akibat nekrosis tubuler akut sering terjadi dengan gejala oliguria sampai anuria ( peningkatan kadar serum creatinine 1 mg/dL ).
5. HEPAR
- Perdarahan periportal pada tepi
hepar
- Ruptura hepar
- Perdarahan subkapsular
6. OTAK
Pada otak terjadi vasokonstriksi
umum yang menimbulkan perubahan
- Nekrosis lokal
- Edema otak
- Distrimia otak meningkatkan
sensivitas motorik
- Tekanan darah meningkat yang
menimbulkan stroke
Manifestasi klinisnya berupa nyeri
kepala sebagai prodromal eklamsia,kejang/konvulsi hipertensif motorik,koma
karena pembengkakan dan perdarahan,gengguan visus yang sifatnya resersibel.
Sering terjadi pada PE dan eklampsia.
Terdapat dua perubahan PA pada cerebri:
Terdapat dua perubahan PA pada cerebri:
- Perdarahan akibat pecahnya
pembuluh arteri karena HT
- Edema, hiperemia , iskemia,
trombosis dan hemoragia yang kecil dan kadang-kadang meliputi daerah yang
luas
Aliran darah otak : Pada eklampsia, mungkin akibat
hilangnya autoregulasi dari CBF-cerebral blood flow terjadi hipoperfusi
sebagaimana yang terjadi pada hipertensif encephalopathi yang tak berkaitan
dengan kehamilan.
Pasien nyeri kepala biasanya disertai dengan peningkatan perfusi cerebral.
Pasien nyeri kepala biasanya disertai dengan peningkatan perfusi cerebral.
Kebutaan :
Gangguan
visus sering terjadi pada PEB, namun kebutaan permanen jarang terjadi pada PE
dan terjadi pada 10% penderita E.
Kebutaan atau amaurosis ( bahasa Greek = dimming) dapat mengenai wanita yang menderita edema vasogenik pada lobus occipitalis yang luas. Umumnya kebutaan berlangsung antara 4 jam sampai satu minggu.
Lara-Torre dkk (2002) : gangguan visual permanen akibat PEB atau E adalah akibat gangguan pada cerebri atau iskemia arteri retina.
Ablasio retina dapat mengganggu visus dan umumnya mengenai salah satu sisi dan prognosis nya baik.
Kebutaan atau amaurosis ( bahasa Greek = dimming) dapat mengenai wanita yang menderita edema vasogenik pada lobus occipitalis yang luas. Umumnya kebutaan berlangsung antara 4 jam sampai satu minggu.
Lara-Torre dkk (2002) : gangguan visual permanen akibat PEB atau E adalah akibat gangguan pada cerebri atau iskemia arteri retina.
Ablasio retina dapat mengganggu visus dan umumnya mengenai salah satu sisi dan prognosis nya baik.
7. PERFUSI UTERO PLASENTA
Gangguan perfusi uteroplasenta akibat vasospasme merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan mortalitas perinatal pada PE dan E.
Pada wanita normal diameter arteri spiralis 500 μ ; pada penderita PE 200 μ
Doppler velosimetri
- Pengukuran
velositi aliran darah dalam arteri uterina dapat digunakan untuk
memperhitungkan besaran resistensi dalam aliran uteroplasenta.
- Resistensi
vaskular ditentukan berdasarkan perbandingan antara bentuk gelombang
arterial sistolik dan diastolik.
- Ganguan
aliran darah uteroplasenta tidak selalu terjadi pada semua penderita PE
dan E.
- Matijevic
dan Johnson ( 1999) dengan velosimetri Doppler mengukur besarnya tahanan
dalam arteri spiralis. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa
Impedansi pembuluh perifer ternyata lebih besar dari pada pembuluh
sentral.
POHON MASALAH
![]() |
2.4 PERAN BIDAN TERHADAP
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN
Hal – hal yang harus bidan
lakukan dalam pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan :
- Memeriksa tekanan darah secara tepat pada setiap pemeriksaan
kehamilan, termasuk pengukuran tekanan darah dengan teknik yang benar.
- Melakukan pemeriksaan pada setiap pagi hari.
- Ukur tekanan darah pada lengan kiri. Posisi ibu hamil duduk atau
berbaring dengan posisi yang sama pada tiap kali pengukuran ( Letakkan
tensimeter di tempat yang datar setinggi jantung ibu hamil dan
gunakan ukuran manset yang sesuai)
- Catat tekanan darah
- Jika tekanan darah diatas 140/90 mmhg atau peningkatan diastole 15
mmhg atau lebih (sebelum 20 minggu),ulangi pengukuran tekanan darah dalam
1 jam.Bila tetap maka berarti ada kenaikan tekanan darah.Periksa adanya edema
terutama pada wajah atau pada tungkai baeah /tulang kering atau daerah
sacral.
- Bila ditemukan hipertensi pada kehamilan, lakukan pemeriksaan urin
terhadap albumin pada setiap kali kunjungan.
- Segera rujuk ibu hamil ke rumah sakit jika : Tekanan darah sangat
tinggi, kenaikan tekanan darah naik secara tiba- tiba,berkurangnya
air seni( sedikit dan berwarna gelap),edema berat yang timbul
mendadak,khususnya pada wajah/daerah sacral
- Jika tekanan darah naik namun tidak ada edema sedangkan doker tidak
mudah dicapai maka pantaulah tekanan darah, periksa protein urin terhadap
protinuria dan denyut jantung janin dengan seksama pada keesokan harinya
atau sesudah 6 jam istirahat.
- Jika tekanan darah tetep naik ,rujuk untuk pemeriksaan lanjutan
walaupun tidak edema atau proteinuria.
- Jika tekanan darah kembali normal atau kenaikannya kurang dari 15
mmhg:
- Beri informasi atau penjelasan pada ibu hamil ,suami atau keluarga
tentang tanda-tanda eklamsia yang mengancam ,khususnya sakit kepala
,pandangan kabur, nyeri ulu hati dan pembengkakan pada
kaki/punggung/wajah.
- Jika tanda-tanda diatas ditemukan segera rujuk ke rumah sakit
11. Bicarakan
seluruh temuan dengan ibu hamil dan suami/keluarga.
12. Catat semua temuan pada KMS ibu hamil / buku KIA.
12. Catat semua temuan pada KMS ibu hamil / buku KIA.
2.5 PENANGANAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN PADA BERBAGAI TINGKAT PELAYANAN
POLINDES
- Rawat jalan 1 x seminggu
- Pantau tekanan darah proteinuria, kesejahteraan janin
- Tunggu persalinan aterm
PUSKESMAS
- Rawat jalan 1 x seminggu
- Pantau tekanan darah proteinuria, kesejahteraan janin
- Tunggu persalinan aterm
- Jika keadaan memburuk tangani sebagai preeklamsia
RUMAH SAKIT
- Kendalikan hipertensi seperti pada preeklamsia
- Terminasi kehamilan jika terjadi PEB
Hal –
hal yang harus diperhatikan atau diingat :
- Tekanan darah harus diukur dengan seksama, sebaiknya pada lengan kiri
dalam posisi duduk atau berbaring dengan punggung kiri ditinggikan dengan
bantal.
- Jangan membaringkan ibu hamil terlentang pada punggungnya karena dapat
menyebabkan pingsan atau hasil pengukuran tekanan darah yang salah
- Baca angka pada tensimeter setinggi mata, bila menggunakan tensimeter
air raksa.
- Gunakan ukuran manset yang tepat sedikitnya 80% manset dapat
melingkari lengan, dengan selang manset dibagian dalam,tepi bawah manset 2
cm diatas lipatan siku.
- Guinakan stetoskop dengan benar bagian telinga harus terpasdang dengan
baik.
- Periksa apakah semua peralatan bekerja dengan baik
- Catat tekanan sistol dan diastol.
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba
IBG,dkk.2007. Pengantar Kuliah Obstetri
. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Manuaba,Chandranita,dkk.
2008. Gawat Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri –Ginekologi Sosial Untuk
Profesi Bidan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Fraser, Diana, dkk.
2009. Myles Buku Ajar Bidan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran Bandung .1984.Obstetri Patologi. Bandung: Elstar Offset

Tidak ada komentar:
Posting Komentar