Sabtu, 28 Desember 2013

Makalah Preeklamsi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Salah satu penyebab kematian ibu yaitu terjadinya eklamsi dalam persalinan, eklamsi diawali dengan pre-eklamsi pada kehamilan lanjut terutama pada trimester III. Kehamilan dengan pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi dengan protein urine, edema atau keduanya yang terjadi akibat kehamilan setelah 20 minggu atau kadang timbul lebih awal. Meskipun secara tradisional diagnosis pre eklamsia memerlukan adanya hipertensi karena kehamilan disertai protein urine atau edema, ada yang mengatakan bahwa edema pada tangan dan muka sangat sering ditemukan pada wanita hamil sehingga diagnosa preeklamsia tidak dapat disingkirkan dengan tidak adanya edema. Insiden preeklamsia pada wanita dengan hipertensi kronik bervariasi karena belum ada definisi yang pasti.
Karena dampak Pre-klamsia ringan sangat signifikan untuk itu ibu harus mampu mengenali dan mengobati Pre-eklamsia ringan agar tidak berlanjut pada Pre-eklamsi berat lalu ke eklamsi, pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, serta melakukan diet makanan tinggi protein, karbohidrat, cukup vitamin dan rendah lemak. Untuk itu dalam mengurangi kejadian dan menurunkan angka kejadian pre-eklamsiringan dapat menyebabkan kematian. Mengingat kejadian komplikasi pada ibu dan BBL sebagian besar terjadi pada masa sekitar persalinan, pemeriksaan kesehatan saat hamil dan kehadiran tenaga kesehatan yang terampil pada masa kehamilan menjadi sangat penting. Pengetahuan masyarakat tentang gejala komplikasi dan tindakan cepat untuk segera meminta pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat menjadi kunci utama dalam menurunkan AKI dan AKB.
Secara umum tingginya kematian ibu dan bayi berkaitan erat dengan 3 terlambat, yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat sampai ke fasilitas kesehatan serta terlambat mendpatkan pelayanan yang optimal (Depkes : 2004 : 24). Untuk mengetahui permasalahan tersebut di perlukan upaya bagi seluruh pihak yang mau bersama-sama menyelamatkan ibu dan bayi.




1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  PENGERTIAN

Preeklamsi merupakan penyakit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra dan postpartum.( ilmu kebidanan, sarwono prawirohardjo,2008,542)

            Preeklamsi adalah gangguan miltisisitem yang bersifat spesifik terhadap kehamilan dan masa nifas. Lebih tepatnya, penyakit ini merupakan penyakit plasenta karena juga terjadi pada kehamilan dimana terdapat trofoblas tapi tidak ada jaringan  janin ( kehamilan mola komplet ).( obstetri dan ginekologi,errol norwits,2007,88)
Preeklampsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester III kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya, misalnya pada molahidatidosa. (Hanifa Wiknjosastri, 2007).
Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitas endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria (Cunningham et al, 2003, Matthew warden, MD, 2005). Preeklampsia terjadi pada umur kehamilan 37 minggu, tetapi dapat juga timbul kapan saja pertengahan kehamilan. Preeklampsia dapat berkembang dari Preeklampsia yang ringan sampai Preeklampsia yang berat (geogre, 2007).
2.2  ETIOLOGI
Penyebab preeklamsi tidak diketahui. Sejumlah teori mencakup adanya respon abnormal imunoligis ibu terhadap alograf janin abnormalitas genetik yang mendasari ketidak seimbangan kaskade protanoid, dan adanya tomsil atau fasokonstriktor endogen dalam aliran darah. Apa yang telah diketahui adalah bahwa cetak biru atau blue print untuk perkembangan pre-eklamsi telah ada pada awal kehamilan. Kondisi primernya kemungkinan adalah kegagalan inflasi trofoblas gelombang ke -2 dari 8 -18 minggu yang bertanggung jawab untuk penghancuran lapisan muskularis dari anteriola sepiralis dalam miometrium yang dekat dengan plasenta yang sedang berkembang. Pada saat kehamilan berlanjut dan kebutuhan metabolik unit vetoplasenta meningkat, arteriola spiralis tidak dapat mengakomodasi peninggkatan aliran darah yang diperlukan. Keadaan ini kemudian mengarah pada terjadinya “DISFUNGSI PLASENTA” yang bermanifestasi secara klinis sebagai pre-eklamsi. Meskipun menarik hipotesis ini harus di falidasi. Apapun apnormalitas plasenta yang terjadi hasil ahirnya adalah fasopasme dan cedera endotelial.
            2.2.1 TEORI - TEORI PENYEBAB PRE-EKLAMSI:
1.    Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada preeklamsia dan eklamsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler,sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh sel-sel endotelial plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan normal, prostasiklin meningkat. Sekresi tromboksan oleh trombosit bertambah sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresialdosteron menurun akibat perubahan ini menyebabkan pengurangan perfusi plasenta sebanyak 50%, hipertensi dan penurunan volume plasma.
2.    Peran Faktor Imunologis
Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada kehamilan pertama terjadi pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna. Pada preeklamsia terjadi kompleks imun humoral dan aktivasikomplemen. Hal ini dapat diikuti dengan terjadinya pembentukan proteinuria
3.    Peran Faktor Imunologis
Preeklamsia hanya terjadi pada manusia. Preeklamsia meningkat pada anak dari ibu yang menderita preeklamsia.
4.    Iskemik dari uterus
Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus.
5.    Defisiensi kalsium
Diketahui bahwa kalsium berfungsi membantu mempertahankan vasodilatasidari pembuluh darah (Joanne, 2006).
6.    Disfungsi dan aktivasi dari endotelial
Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan penting dalam patogenesis terjadinya preeklamsia. Fibronektin dilepaskan oleh sel endotel yang mengalami kerusakan dan meningkat secara signifikan dalam darah wanita hamildengan preeklamsia. Kenaikan kadar fibronektin sudah dimulai pada trimester  pertama kehamilan dan kadar fibronektin akan meningkat sesuai dengan kemajuankehamilan (Bobak, 2004)

2.3  PATOFISIOLOGIS
Tekanan Darah
 


           
Meningkat
TD ≥ 140 / 90
NORMAL
 





Gejala / Tanda Lain

*      Nyeri kepala dan / atau
*      Gangguan penglihatan
*      Hiperrefleksia
*      Proteinuria
*      Koma
Kejang ( - )
Hamil > 20 mgg
Hamil < 20 mgg
Kejang ( + )
 




Hipertensi                      Superimposed
Kronik                             preeklamsia


                                                    Hipertensi              Preeklamsia          Preeklamsia
                                                                                     Ringan                   Berat


                                                                                                                                EKLAMSIA


2.4  MANIFESTASI KLINIS

Menurut Mitayani (2009) Preeklamsi dapat di klasifikasikan menjadi 2 macam :
v  Preeklamsi Ringan
Preeklamsi Ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel
v  Dengan tanda gejala berikut:
*        TD ≥ 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu
*        Proteinuria ≥ 300 mg/24 jam atau ≥ 1+ dispstick
*        Tekanan darah 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval pelaksanaan 6  jam.
*        Tekanan darah diastolic 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan interval pelaksanaan 6 jam.
*        Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu
*        Proteinuria kuantitatif 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1 sampai 2 urin keteter atau midstream.

v  Preeklamsi Berat
Preeklamsi berat ialah preeklamsia dengan tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥110 mmHg disertai proteinnuria lebih 5 g/24 jam.
v  Dengan tanda gejala berikut :
*      TD ≥ 160/110 mmHg pada kehamilan > 20 minggu  
*       Serum Creatinine > 1.2 mg/dL (kecuali bila sebelumnya sudah abnormal )  
*       Trombosit < 100.0000 / mm3   
*       Nyeri kepala atau gangguan visual persisten  
*       Nyeri epigastrium
*      Oligouria, urin kurang dari 40 cc/24 jam
*      Proteinuria lebih dari 3gr/liter
*      Adanya gangguan selebral, gangguan virus dan rasa nyeri di epigastrium.
*      Terdapat edema paru dan sianosis. (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998).
2.5  FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB
1). Status reproduksi.
a.       Faktor usia
Usia 20 – 30 tahun adalah periode paling aman untuk hamil / melahirkan, akan tetapi di negara berkembang sekitar 10% - 20%bayi dilahirkan dari ibu remaja yang sedikit lebih besar dari anak-anak. Padahal daru suatu penelitian ditemukan bahwa dua tahun setelah menstruasi yang pertama, seorang wanita masih mungkin mencapai pertumbuhan panggul antara 2 – 7 % dan tinggi badan 1%.Dampak dari usia yang kurang, dari hasil penelitian di Nigeria, wanita usia 15 tahun mempunyai angka kematian ibu 7 kali lebih besar dari wanita berusia 20 – 24 tahun.Faktor usia berpengaruh terhadap terjadinya pre-eklampsia/eklampsia. Usia wanita remaja pada kehamilan pertama atau nulipara umur belasan tahun (usia muda kurang dari 20 thn).

b.      Paritas
Dari kejadian delapan puluh persen semua kasus hipertensi pada kehamilan, 3 – 8 persen pasien terutama pada primigravida, pada kehamilan trimester kedua.Catatan statistik menunjukkan dari seluruh incidence dunia, dari 5%-8% pre-eklampsia dari semua kehamilan, terdapat 12% lebih dikarenakan oleh primigravidae. Faktor yang mempengaruhi pre-eklampsia frekuensi primigravida lebih tinggi bila dibandingkan  dengan multigravida, terutama primigravida muda. Persalinan yang berulang-ulang akan mempunyai banyak risiko terhadap kehamilan, telah terbukti bahwa persalinan kedua dan ketiga adalah persalinan yang paling aman. Pada The New England Journal of Medicine tercatat bahwa pada kehamilan pertama risiko terjadi preeklampsia 3,9% , kehamilan kedua 1,7% , dan kehamilan ketiga 1,8%. 



c.       Kehamilan ganda
Preeklampsia dan eklampsia 3 kali lebih sering terjadi pada kehamilan ganda  dari 105  kasus  kembar  dua  didapat  28,6%  preeklampsia dan satu kematian ibu karena eklampsia. Dari hasil pada kehamilan tunggal, dan sebagai faktor penyebabnya ialah dislensia uterus. Dari penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan menyebutkan bahwa 8 (4%) kasus preeklampsia berat mempunyai jumlah janin lebih dari satu, sedangkan pada kelompok kontrol, 2 (1,2%) kasus mempunyai jumlah janin lebih dari satu.
d.       Faktor genetika
Terdapat bukti bahwa pre-eklampsia merupakan penyakit yang diturunkan, penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak wanita dari ibu penderita pre-eklampsia.Atau mempunyai riwayat preklampsia/eklampsia dalam keluarga.Faktor ras dan genetik merupakan unsur yang penting karena mendukung   insiden     hipertensi     kronis     yang    mendasari.  Kami menganalisa kehamilan pada 5.622 nulipara yang melahirkan di Rumah Sakit Parkland dalam tahun 1986, dan 18% wanita kulit putih, 20% wanita  Hispanik  serta  22%  wanita kulit hitam menderita hipertensi yang memperberat kehamilan (Cuningham dan Leveno, 1987). Insiden hipertensi dalam kehamilan untuk  multipara adalah 6,2% pada kulit putih, 6,6% pada Hispanik, dan 8,5% pada kulit hitam, yang menunjukkan bahwa wanita kulit hitam lebih sering terkena penyakit hipertensi yang mendasari. Separuh lebih dari multipara dengan hipertensi juga mendrita proteinuria dan karena menderita  superimposed preeclampsia. Kecenderungan untuk preekalmpsia-eklampsia akan diwariskan.Chesley dan Cooper (1986)   mempelajari saudara, anak, cucu dan menantu perempuan dari wanita   penderita eklampsia  yang melahirkan  di Margareth Hague Maternity Hospital selam jangka waktu 49 tahun, yaitu dari tahun 1935 sampai 1984. Mereka menyimpulkan bahwa preeklampsia – eklampsia bersifat sangat diturunkan, dan bahwa model gen-tunggal dengan frekuensi 0,25 paling baik untuk menerangkan hasil pengamatan ini; namun demikian, pewarisan multifaktorial juga dipandang mungkin.


2).  Status kesehatan
a.        Riwayat preeklampsia
Hasil  penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan menyebutkan   bahwa    terdapat    83 (50,9%)    kasus   preeklapmsia mempunyai riwayat preeklapmsia, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 12 (7,3%) mempunyia riwayat preeklampsia berat.

b.      Riwayat hipertensi
Salah satu faktor predisposing terjadinya pre-eklampsia atau eklampsia  adalah adanya riwayat hipertensi kronis, atau penyakit vaskuler hipertensi sebelumnya, atau hipertensi esensial. Sebagian besar kehamilan dengan hipertensi esensial berlangsung normal sampai cukup bulan. Pada kira-kira sepertiga diantara para wanita penderita tekanan darahnya tinggi setelah kehamilan 30 minggu tanpa disertai gejala lain. Kira-kira 20% menunjukkan kenaikan yang lebih mencolok dan dapat disertai satu gejala preeklampsia atau lebih, seperti edema, proteinuria, nyeri kepala, nyeri epigastrium, muntah, gangguan visus  ( Supperimposed preeklampsia ), bahkan dapat timbul eklampsia dan perdarahan otak.

c.        Riwayat penderita diabetus militus 
Hasil penelitian Agung Supriandono dan Sulchan sofoewan menyebutkan bahwa dalam pemeriksaan kadar gula darah sewaktu lebih   dari   140  mg %   terdapat  23   (14,1%)   kasus  preeklampsia, sedangkan pada kelompok kontrol (bukan preeklampsia) terdapat 9 (5,3%). 

d.      Status gizi
Kegemukan disamping menyebabkan kolesterol tinggi dalam darah juga menyebabkan kerja jantung lebih berat, oleh karena jumlah darah yang berada dalam badan sekitar 15% dari berat badan, maka makin gemuk seorang makin banyak pula jumlah darah yang terdapat di dalam tubuh yang berarti makin berat pula fungsi pemompaan jantung. Sehingga dapat menyumbangkan terjadinya preeklampsia.


3).  Perilaku sehat
a.       Pemeriksaan antenatal
Preeklapmsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan berkelanjutan, oleh karena itu melalui antenatal care yang  bertujuan untuk mencegah perkembangan preeklampsia, atau setidaknya dapat mendeteksi  diagnosa dini sehingga dapat mengurangi kejadian kesakitan. Pada tingkat permulaan preeklampsia tidak memberikan gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh pasien sendiri,  maka diagnosa dini hanya dapat dibuat dengan antepartum care. Jika calon ibu melakukan  kunjungan  setiap  minggu  ke  klinik  prenatal  selama 4-6 minggu terakhir kehamilannya, ada kesempatan untuk melekukan tes proteinuri, mengukur tekanan darah, dan memeriksa tanda-tanda udema. Setelah diketahui diagnosa dini perlu segera dilakukan penanganan untuk mencegah masuk kedalam eklampsia.  Disamping faktor-faktor yang sudah diakui, jelek tidaknya kondisi ditentukan juga oleh baik tidaknya antenatal care. Dari 70% pasien primigrafida yang menderita preeklampsia, 90% nya mereka tidak melaksanakan atenatal care.

b.      Penggunaan alat kontrasepsi
Pelayanan KB mampu mencegah kehamilan yang tidak di inginkan, sehingga menpunyai kontribusi cukup besar terhadap kematian ibu terkomplikasi, namun perkiraan kontribusi pelayanan KB terhadap kematian yang disebabkan oleh komplikasi obstetri lainnya, antra lain eklampsia yaitu 20%.

2.6  PENATALAKSANAAN

Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang berkelanjutan dengan penyebab yang sama. Oleh karena itu, pencegahan atau diagnosis dini dapat mengurangi kejadian dan menurunkan angka kesakitan  dan kematian. Untuk dapat menegakkan diagnosis dini diperlukan  pengawasan hamil yang teratur dengan memperhatikan kenaikan berat badan, kenaikan tekanan darah, dan pemeriksaan untuk menentukan proteinuria. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda- tanda dini pre-eklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Karena para wanita biasanya tidak mengemukakan keluhan dan jarang memperhatikan tanda-tanda preeklampsia yang sudah terjadi, maka deteksi dini keadaan ini memerlukan pengamatan yang cermat dengan masa- masa interval yang tepat.Kita perlu lebih waspada akan timbulnya pre-eklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan diatas. Walaupun timbulnya pre-eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasan yang baik pada wanita hamil,  antara lain:

a)      Diet makanan.
Makanan tinggi protein, tinggi karbohidrat, cukup vitamin, dan rendah lemak. Kurangi garam apabila berat badan bertambah atau edema. Makanan berorientasi pada empat sehat lima sempurna. Untuk  meningkatkan protein dengan tambahan satu butir telus setiap hari.

b)      Cukup istirahat
Istirahat yang cukup pada hamil semakin tua dalam arti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaring ke arah punggung janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami gangguan.

c)      Pengawasan antenatal ( hamil )
Bila terjadi perubahan perasaan dan gerak janin dalam rahim segera datang ke tempat pemeriksaan. Keadaan yang memerlukan perhatian:
1).  Uji kemungkinan pre-eklampsia:
a)  Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
b)  Pemeriksaan tinggi fundus uteri
c)  Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
d)  Pemeriksaan protein urin
e)  Kalau mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati,  Gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata.
2).   Penilainan kondisi janin dalam rahim
a)  Pemantauan tingi fundus uteri
b)  Pemeriksaan janin: gerakan janin dalam rahim, denyut jantung
janin, pemantauan air ketuban 
c)  Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Dalam keadaan yang meragukan, maka merujuk penderita merupakan  sikap yang ha     rus dipilah.

 2.6.1 Penanganan pre-eklampsia
Eklampsia merupakan komplikasi obstetri kedua yang menyebabkan 20 – 30% kematian ibu. Komplikasi ini sesungguhnya dapat dikenali dan dicegah sejak masa kehamilan (preeklampsia). Preeklampsia yang tidak mendapatkan tindak lanjut yang adekuat ( dirujuk ke dokter, pemantauan yang ketat, konseling dan persalinan di rumah sakit ) dapat menyebabkan terjadinya eklampsia pada trimester ketiga yang dapat berakhit dengan kematian ibu dan janin.  Penanganan pre-eklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal. Pengobatan hanya dilakukan secara simtomatis karena etiologi pre-eklampsia, dan faktor-faktor apa dalam kahamilan yang menyebabkannya, beluM diketahui. Tujuan utama penanganan ialah :
1)        mencegah terjadinya pre-eklampsia berat dan eklampsia;
2)        melahirkan janin hidup
3)        melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya.
Pada dasarnya  penanganan pre-eklampsia terdiri atas pengobatan medik dan penanganan obtetrik. Pada pre-eklampsia ringan ( tekanan darah 140/90 mmHg samoai 160/100 mmHg ) penanganan simtomatis dan berobat jalan masih mungkin ditangani di puskesmas dan dibawah pengawasan dokter, dengan tindakan yang diberikan:
Ø  Menganjurkan ibu untuk istirahat ( bila bekerja diharuskan cuti), dan menjelaskan kemungkinan adanya bahaya. )
Ø  Sedativa ringan.
a. Phenobarbital 3 x 30 mg
b. Valium 3 x 10 mg
Ø  Obat penunjang
a.       Vitamin B kompleks
b.      Vitamin C atau vitamin E
c.       Zat besi
Ø  Nasehat
a.  Garam dalam makan dukurangi
b.  Lebih banyak istirahat baring kearah punggung janin
c.  Segera datang memeriksakan diri, bila terdapat gejala sakit    kepala, mata kabur,  edema  mendadak  atau  berat  badan  naik,   pernafasan   semakin sesak, nyeri epigastrium, kesadaran makin berkurang, gerak janin melemah-berkurang, pengeluaran urin berkurang.
Ø  Jadwal pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat.  Petunjuk untuk segera memasukkan penderita ke rumah sakit atau merujuk penderita perlu memperhatikan hal berikut:
a)  Bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
b)  Protein dalam urin 1 plus atau lebih
c)  Kenaikan berat badan 11/2 kg atau lebih dalam seminggu
d)  Edema bertambah dengan mendadak
e)  Terdapat gejala dan keluhan subyektif.

Seorang bidan diperkenankan merawat penderita preeklampsia berat bersifat sementara, sampai menunggu kesempatan melakukan rujukan. Penanganan abstetri ditujukan untuk melahirkan bayi pada saat yang optimal, yaitu sebelum janin mati dalam kandungan, akan tetapi sudah cukup matur untuk hidup di luar uterus. Setelah persalinan berakhir, jarang terjadi eklampsia, dan janin yang sudah cukup matur lebih baik hidup diluar kandungan dari pada dalam uterus. 

BAB III
      KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN
Kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis,namun dalam kehamilan dapat terjadi sesuatu hal yang patologis,salah satunya adanya preeklamsi dalam kehamilan yang digolongkan dalam preeklamsi ringan dan preeklamsi berat.
Preelamsi adalah dimana keadaan hypertensi dan disertai protein urine(+).Dikatakan preeklamsi ringan jika terjadi kenaikan diastolic tekanan darah  30 mmHg,protein urine +1.
Dan dikatakan preeklamsi berat jika ditandai dengan  tekanan darah 160/110 mmHg,nyeri kepala,nyeri epigastrium,oligouria,pandangan kabur karena oedema pada pupil,terdapat oedem pada sekitar wajah dan/ekstermitas atas bawah,protein urine +2.

3.2 SARAN
Preeklamsi merupakan titik awal terjadinya eklamsi yang merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi.Dengan dibuatnya makalah ini semoga dapat memberikan manfaat khususnya mahasiswa d3 kebidanan dan tinjauan kasus diatas dapat memberikan gambaran tentang tanda gejala serta penanganan preeklamsi sesuai kewenangan dan kompetensi bidan.Terlebih lagi,kita sebagai bidan dimasa depan dapat melakukan pencegahan preventif melalui antenatal care yang berkualitas agar preeklamsi tidak menjadi eklamsi bahkan dapat di tanggulangi.



DAFTAR PUSTAKA

Prof. dr.H. Muh.Dikman Angsar, SpOG, tahun 2005
Bobak, 2004
Prawirohardjo sarwono Dsog ,dkk  ilmu kebidanan Jakarta,2002
Mansjoer,dkk 2000
Mansjoer, Arif, dkk, editor, Kapita selekta kedokteran, jilid I. edisi ketiga. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2001
Mochtar, MPH. Prof. Dr. Rustam. Synopsis Obstetri. Jilid I. edisi kedua EGC. Jakarta, 1998.
Hanifa. Ilmu Kebidanan ed. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo. Jakarta 2005






Tidak ada komentar:

Posting Komentar